Senin, 30 November 2015
Pria Pakistan Dihukum Mati di Saudi Setelah Bunuh 2 WNI asal Ponorogo
ALRIYADH
Kantor Kementerian Dalam Negeri Saudi
Hidayatullah.com–Hari Rabu, (28/10/2015) Kementrian Dalam Negeri Arab Saudi telah mengeksekusi secara qishas warga negara Pakistan Amal Jan Haji yang telah membunuh pasutri Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Riyadh, Bambang Sugianto bin Hadi dan istrinya Surati Widyastuti.
Amal dieksekusi setelah terbukti dan mengakui sendiri telah membunuh pasangan suami-istri asal Ponorogo pada tahun 2012. Demikian kutip laman berbahasa Arab, al-Riyadh.
Warga Pakistan tersebut diketahui masuk ke rumah pasangan WNI dan memukul kepala keduanya dengan benda keras yang terbuat dari besi secara berulang-kali hingga keduanya meninggal.
Usai membunuh, pelaku meninggalkan jasad kedua korban tergeletak di dalam kamar yang terbakar dengan keadaan terkunci.
Pihak keamaan Kota Riyadh berhasil menangkap pelaku setelah berhasil melakukan penyidikan.
Pelaku sehari-hari bsebagai bekerja opir taksi dan tidak memiliki kemampuan ekonomi membayar diyat (tebusan).Sementara pihak pemerintah Pakistan juga tidak memberikan bantuan dalam rangka pembebasan dan pembayarandiyat.
Pihak kerajaan Saudi telah menerbitkan perintah hukuman qishah eksekusi mati atas pelaku pada hari Rabu kemarin di Kota Riyadh.
Seperti diketahui, Arab Saudi menerapkan hukum qisash (pembalasan) yang amat berat bagi pelaku membunuh, mencuri juga memperkosa.*/Imam Muhammad
Relakah Warga Ponorogo? Reog dan Hiasan Gamelan Dibakar di KJRI Davao Karena Dianggap Berhala
DIBAKAR. Beberapa orang saat melakukan aksi pembakaran Dadak Merak Reog Ponorogo, beserta naga penghias gamelan di KJRI Davao, Philipina. (foto: ist/bitungnews/ponorogonews)
PONOROGONEWS – Apa jadinya Ponorogo tanpa Reog, mungkin kota ini tidak bakal sepopuler sekarang, namun, di belahan bumi lain di Pilipina, sejumlah oknum KJRI, justru membakar dadak merak Reog Ponorogo, beserta gamelan pengirimnya karena menganggapnya berhala.
Seperti dilansir Bitungnews.com (29/10), diduga telah terjadi aksi pembakaran di Konsulat Jenderal RI di Davao, Philipina oleh sejumlah oknum di KJRI, yang membakar Barong Reog Ponorogo, beserta hiasan gamelan. Dari Informasi yang dihimpun bitungnews.com, pembakaran dilakukan pada hari Selasa, 20 Oktober 2015.
Alasan pembakaran Barong Reog Ponorogo, dan hiasan naga pada gamelan, karena ada setan dan merupakan berhala. Sayangnya Acting KJRI Loegeng Priyohanisetyo, tak menghalangi aksi pembakaran tersebut.
Bahkan, kabarnya, Acting KJRI Davao justru memanggil satpam yang bernama Santander untuk menyirami gas di atas reog dan 2 ular naga gamelan, satpam begitu heran dan terkejut katanya dalam bahasa Tagalog Bisaya:
” Hadluk kaayu ko, sayang kaayu ang dragon gwapo kaayu unya sunugon, kasayang sa reog pero gisugo man ko (saya ketakutan sekali sayang sekali ularnaga itu bagus sekali terus mau dibakar, reognya sayang sekali tapi bagaimana lagi saya disuruh),” kata Santander.
” Saat pembakaran Barong Reog dan hiasan naga gamelan, yang merupakan inventaris museum budaya KJRI, tidak satupun staf KJRI lain yang tahu, ” kata sebuah sumber seperti dikutip bitungnews.com.
“Setelah kejadian ini, para pelaku dihujat oleh sebagian besar WNI yang berada di Davao, namun para pelaku merasa tetap tidak bersalah karena menurut mereka apa yang mereka kerjakan adalah benar dimata Tuhan, ” tambah sumber tersebut.
Warga Negara Indonesia yang berada di Davao, menyatakan Acting KJRI Davao dinyatakan persona non grata, dan meminta pemerintah RI untuk menarik oknum-oknum yang terlibat aksi pembakaran budaya warisan bangsa.
Pihak Bitungnews.com yang mencoba hubungi Pelayanan Media dan Informasi, Kementerian Luar Negeri di 021 3813453, namun hingga berita ini diturunkan tidak diangkat. Dan pesan elektronik ke infomed@kemlu.go.id juga belum mendapat jawaban. (joss/bitungnews)
Minggu, 29 November 2015
KPU Tetapkan Daftar Pemilih Tetap Pilkada Ponorogo
Jumat, 2 Oktober 2015 22:25 WIB
Oleh Destyan H. Sujarwoko
Ponorogo (Antara Jatim) - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Jumat menggelar rapat pleno rekapitulasi penetapan daftar pemilih tetap (DPT) pemilihan kepala daerah setempat yang berjumlah 765.573 orang.
"Jumlah tersebut tersebar di 21 Kecamatan, 307 Desa dan akan memilih di 1.721 TPS (tempat pemungutan suara) pada 9 Desember nanti," terang Ketua KPU Ponorogo, Ikhwanudin usai rapat pleno rekapitulasi di salah satu hotel di Ponorogo.
Kendati DPT telah ditetapkan, Ichwanudin menegaskan data dimungkinkan masih berubah.
"Nanti seandainya ada yang belum terdaftar masih bisa ikut daftar pemilih tambahan (DPTb tahap 1) namun dengan menunjukan KTP, KK, paspor atau identitas lainnya, tujuh hari setelah penetapan DPT," ujarnya.
Ichwanudin menambahkan, masyarakat Ponorogo yang tidak terdaftar dalam DPT dan DPTb-1 tetap masih bisa ikut memilih pada saat hari pencoblosan berlangsung, dengan syarat terdaftar di DPTb tahap 2.
"Selama masih masyarakat Ponorogo tengah masih bisa memilih, bawa saja KTP, KK, pasport dan lainnya, nanti kita akan masukan kedalam DPTb-2," jelasnya.
Jumlah DPT pemilihan bupati dan wakil bupati Ponorogo tengah periode 2015 jauh berbeda dengan DPT pemilihan presiden kemarin.
Perbedaan tersebut dikarenakan saat pemilihan presiden, semua masyarakat diperbolehkan memilih selama memiliki identitas meskipun bukan warga daerah tersebut.
"Kalau sekarang yang boleh memilih harus warga bangka tengah, berbeda dengan pemilihan presiden kemarin, warga luar bisa memilih," ungkapnya.
Sebelumnya, KPU Ponorogo menetapkan daftar pemilih sementara (DPS) pilkada setempat yang berjumlah 769.574 orang dan tersebar di 304 desa/kelurahan, Rabu (2/9).
Dari jumlah DPS itu, rinciannya pemilih laki-laki sebanyak 377.003 untuk perempuan 392 571 dengan jumlah TPS 1.721.
Hasil tersebut merupakan hasil pencocokan dan penelitian daftar potensial penduduk pemilih pemilu (DP4) Kabupaten Ponorogo mencapai 809.108 orang, dari total jumlah penduduk yang tercatat sebanyak 908.289 orang. (*)
Hutan Ngilo-ilo Slahung Ponorogo Terbakar, Tewaskan 3 Warga dan 1 Polhut
KORBAN TEWAS. Inilah salah satu korban tewas kebakaran hutan desa Ngilo-Ngilo, Slahung, Ponorogo, Kamis (29/10), pada sekitar pukul 13.00 WIB. (foto: ist/ponorognews)
PONOROGO – NEWS, Kebakaran hutan hingga mengakibatkan tewasnya warga rupanya tak hanya terjadi di Sumatera dan Magetan, tapi juga di Ponorogo, yang menimpa di hutan Desa Ngilo-ilo, Slahung, Ponorogo, dan mengakibatkan 4 orang korban tewas.
Kamis (29/10), kawasan hutan yang masuk Dusun Banyon Desa Ngilo-ilo, kecamatan Slahung terbakar. Hutan ini sendiri masuk dalam petak 49 kawasan perhutani Lawu DS Ponorogo Selatan.
Seperti diungkapkan Kapolsek Slahung, AKP Gunawan, kebakaran yang menimpa hutan di wilayah hukumnya tersebut terjadi pada sekitar pukul 13.00 WIB. Mengetahui ada hutan terbakar, polisi hutan (polhut) dibantu warga setempat yang total jumlahnya mencapai 20 orang segera melakukan pemadaman.
Sayangnya, sebagian warga dan tim pemadam dari polisi hutan yang sedang hutan di sekitar lereng jurang tak menyadari adanya angin gunung yang memutar, hingga membuat api di lereng tersebut mengepung mereka. Dan para korban pun tak sempat melarikan diri, dan akhirnya tewas di lokasi kejadian.
Berikut nama korban yang meninggal dalam kejadian tersebut:
1. Suyitno, 42 tahun, Polhut, warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Ponorogo
2. Jaimun, 48 tahun, petani, warga Desa Ngilo-ilo, Kecamatan Slahung, Ponorogo.
3. Paimun, 25 tahun, petani, alamat sama.
4. Budianto, 35 tahun, petani, alamat sama.
Menurut Polisi, para korban sudah dikirim ke rumah masing-masing untuk dimakamkan. Luas hutan yang terbakar sendiri mencapai 5 hektar. (joss/ponorogonews)
Di Ponorogo, 22 Anak Sekolah Belajar ‘Bersama’ Kambing
PONOROGO (MM) – Ironis, begitulah ungkapan yang saat ini terjadi mewarnai dunia pendidikan Ponorogo. Disaat 10 milyar rupiah Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun ini tidak terserap, kondisi memprihatinkan justru terjadi di sejumlah tempat, salah satunya kelompok belajar di Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon.
Tahun ini, Kabupaten Ponorogo dikabarkan mengembalikan dana Rp 10 milyar DAK pendidikan ke kas Negara. Pasalnya, anggaran pengadaan alat peraga yang disiapkan APBN itu tidak terserap lantaran tidak ada satupun sekolah yang mau mengajukan proposal ke Dinas Pendidikan.
Kondisi ini berbalik 360 derajat dengan yang terjadi di Dukuh Sidowayah Sidoharjo Jambon. Ibarat pepatah tidak ada rotan akar pun jadi, begitulah suasana belajar yang terjadi disana. Kelompok bermain Tunas Bangsa ini terpaksa harus melakukan aktivitas belajar mengajar didekat kandang kambing.
Kegitan belajar yang dilakukan di teras rumah Kasih, salah satu warga setempat, berdekatan dengan kandang kambing.
Sampai saat ini, kelompok belajar Tunas Bangsa Desa Sidaharjo yang memiliki 22 anak dan 2 guru ini belum memiliki gedung sekolah yang layak seperti sekolah-sekolah pada umumnya.
"Keadaan ini, belajar di teras rumah dan berdekatan dengan kandang kambing ini membuat pihak pengajar kesulitan mengembangkan pendidikan karena terkendala sarana dan fasilitas. Sementara kemajuan pendidikan bagi anak usia 5 tahun harusnya didukung dengan sarana sekolah," ujar salah satu perangkat Desa Sidowayah, Kamis (03/08).
Ia menceritakan, kelompok Belajar Tunas Bangsa berdiri sejak 18 Desember 2011 dan sudah memiliki izin operasional dari Dinas Pendidikan. “Dula pernah didatangi dari Dinas Pendidikan Jatim, namun disuruh menyediakan tanah. Saya jawab, uang dari mana untuk beli tanah?,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi ini mau tidak mau belajar dengan suasana bau dari kotoran hewan seperti kambing. Tidak hanya itu, debu yang beretebaran membuat konsentrasi proses belajar mengajar terganggu. Ini terjadi karena lantai yang digunakan hanyalah tanah keras, sehingga pakaian maupun perlengkapan sekolah murid lainnya pun penuh debu.
Sementara itu Miseri Efendi, Wakil Ketua DPRD Ponorogo menyayangkan masih adanya anak sekolah usia dini dengan kondisi belajar memprihatinkan. “Ironis dan kasihan, usia 5 tahun adalah usia dimana bisa menerima masukan ilmu, karakter yang ditanamkan pastinya akan membekas,” ujarnya. Seharusnya pemkab melalui dinas terkait bisa mendata keberadaan belajar mengajar diwilayah Ponorogo.
Lebih lanjut politisi Demokrat ini menyayangkan pihak pemkab yang kurang perhatian dengan kodisi ini. “Kan ada regulasi terkait penyediaan fasilitas tempat belajar. Mulai dari sarana dan prasana, alat belajar. Masa, belajar disamping kandang kambing,” ketusnya. (nur/hart)
.
Jumat, 06 November 2015
Menelisik Keangkeran Klampis Ireng
PONOROGO, – Ketika mendengar tempat yang bernama klampis ireng, banyak orang pasti langsung merinding, salah satu tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat Ponorogo ini terletak di Desa Gandu Kepuh, namun orang lebih mengenalnya kalau klampis ireng terletak di Desa Sragi.
Belum sampai pada tempatnya, namun aura mistis sudah sangat terasa ketika datang untuk memenuhi rasa penasaraan yang begitu tinggi, sebelum masuk pada area klampis ireng ada dua patung semar berwarna hitam sebagai pintu gerbang masuk pada kawasan klampis ireng, kenapa harus patung semar karena menurut cerita bahwa klampis ireng memang merupakan tempat atau kerajaan nya kyai semar.
Klampis ireng tidak salah kalau memang dijdikan atau dikenal sebagai tempat paling wingit dan angker, tempatnya yang ada di tengah-tengah sawah, ditambah ada banyak pohon-pohon besar yang mengelilingi klampis ireng. Kenapa dinamakan klampis ireng karena konon katanya memang dulu disini ada pohon klampis ireng namun sekarang sudah tidak ada atau sudah mati.
Banyak cerita berkembang di masyarakat bahwa klmpis ireng memang sebuah kerajaan alam goib, dimana semua makluk goib apapun bentuk dan rupanya ada disini dengan rajanya yang dikenal dengan sebutan kyai semar.
Ini merupakan tempat berkumpulnya Kyai Semar dan Punakawan, kalau kita bisa melihatnya maka akan terlihat sebuah kerajaan goib dengan segala kelengkapan nya, diantaranya pasar dan lain sebagainya,”ujar Giyanto juru kunci Klampis ireng.
Lanjutnya, banyak alasan kenapa orang datang ke tempat itu, antara lain minta pangkat, banyak atau dimudahkan rejeki, memilki kecantikan yang lebih untuk menarik lawan jenis, usaha lancar, dan lain sebagainya. “Namun kebanyakan mereka ini karena menginginkan rejeki yang banyak,”imbuhnya.
Masih menurut mbah gundul sapaan akrab Giyanto, semua saja ketika datang ke tempat ini dan menginginkan sesuatu harus melakukan ritual sembari menyediakan 9 jenis barang seperti kemeyan, candu, rokok, kembang telon dan lainnya yang disyaratkan, adapun untuk larangan nya itu sendiri diantaranya tidak boleh memakai baju berwarna hijau pupus karena dianggap menyamai dayangan dan tidak boleh datang pada malam jum’at wage dalam penanggalan jawa.
“Bilamana larangan tersebut dilanggar oleh mereka yang datang akan berdampak buruk kepada yang melanggarnya, bahkan bisa sampai meninggal.”terangnya.
Ketika melakukan ritual ada yang cuma semalam, ada juga yang sampai berhari-hari, tergantung kebutuhan dan apakah orang tersebut berhasil atau tidak, “untuk tolak ukur keberhasilan apa tidak, orang yang datang dan melakukan ritual tersebut dapat bertemu dengan kyai semar atau tidak,”tuturnya.
Menurut kepercayaan tempat ini (klampis ireng)adalah keraton atau kerajaan alam gaib, jadi ketika ingin berkunjung istilahnya ya harus dengan tata cara atau sopan santun agar dapat diterima oleh penghuni keraton. “Tidak boleh dibuat sembarangan atau dalam bahasa jawa ura uleg dinggo jak-jak’an utowo sembarangan, karena ini keraton bukan tempat biasa,”pintanya.
Karena tempat ini adalah kerajaan jadi kalau mampu untuk melihatnya ada melihat sebuah kerajayaan dengan segala isinya yang serba emas, dan akan bertemu dengan penghuninya kyai semar beserta punakawan nya yang terlihat duduk, “kalau bisa menembus alam gaibnya akan terlihat kerajaan yang serba emas dan bilamana kyai semar berkenan maka dipercaya segala permintaan akan dikabulkan,”jelas Giyanto

Menjadi juru kunci di klampis ireng kurang lebih sudah 10 tahun, tidak ada penunjukan untuk menjadi juru kunci, awalnya dulu sebelum saya yaitu jokoboyo (perangkat desa) Jamal, kemudian saya diminta untuk membantu Pak Jamal untuk membantu para tamu menyediakan keperluan ritual, “Setelah Jamal meninggal, pada akhirnya orang mengenal saya sampai saat ini serta dianggap sebagai juru kunci klampis ireng,”pungkasnya.*(dee)
Asal Usul Telaga NgebeL
Ponorogo adalah salah satu kabupaten di jawa Timur, selain terkenal dengan Reognya, juga terkenal dengan telaga Ngebelnya yang sejuk, asri, dan siap memanjakan pengunjungnya. Bila Anda mampir ke Ponorogo, belum lengkap bila belum menengok salah satu tempat wisata paling legendaris dan paling populer di sana yaitu telaga ngebel.
Telaga ini berada di kecamatan Jenangan, daerah Ponorogo Timur yang berdekatan dengan gunung Wilis. Ngebel sendiri berasal dari bahasa Jawa, ‘ngembel‘ atau berair. Karena, jaman dahulu, ada seorang Wara’i atau orang yang sakti ilmu kanuragan dan ilmu agamanya melewati suatu daerah di kawasan Ponorogo dan melihat fenomena tanah yang berair itu. Maka sang Wara’i pun berujar;
“Ana sak wijining jaman, tlatah iki kasebut Ngembel_Suatu saat daerah ini bernama Ngembel”
Tapi karena lidah yang salah kaprah dalam waktu yang lama dan turun temurun, maka Ngembel pun berubah menjadi Ngebel.
Masyarakat Ngebel sendiri memiliki dongeng tentang asal muasal Telaga yang menjadi icon Ponorogo tersebut. Dongeng tersebut adalah sebagai berikut.
Jaman dahulu kala, ada sepasang suami istri yang tinggal di suatu kampung yang melahirkan anak seekor ular naga. Naga itu diberi nama Baru Klinting. Melihat keanehan wujud Baru Klinting ini, mereka tak berani tinggal di kampung tersebut karena takut menjadi bahan gunjingan tetangga.Mereka pun mengungsi ke puncak gunung untuk mengasingkan diri dan memohon pada dewa agar mengembalikan rupa putra mereka ke wujud manusia.
Doa itu pun didengar. Syarat yang harus dilakukan oleh Baru Klinting adalah melakukan pertapaan selama 300 tahun dengan cara melingkarkan tubuhnya di gunung Semeru. Sayang, panjang tubuhnya kurang sejengkal untuk bisa melingkari seluruh gunung. Maka, untuk menutupi kekurangan itu, ia menyambungkan/ menjulurkan lidahnya hingga menyentuh ujung ekornya.
Rupanya, syarat untuk menjadi manusia tak hanya itu. Dewa meminta sang Ayah agar memotong lidah Baru Klinting yang sedang bertapa tersebut. Baru Klinting yang bersemedi tak menolak toh demi kebaikannya agar menjadi manusia.
Saat waktu bertapa hampir selesai, ada kepala kampung yang akan menikahnya anaknya. Kepala kampung pun sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, terlebih lagi soal hidangan. Konon, mereka akan menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah dan sangat besar. Untuk menutupi kekurangan bahan makanan, secara sukarela warga pun membantu berburu di hutan. Ada yang mencari buah-buahan, ranting/ kayu bakar hingga hewan buruan seperti rusa, kelinci, maupun ayam hutan.
Sudah beberapa lama warga berburu,namun tak mendapatkan hasil buruan apapun
Tanpa sengaja, ada segolongan warga yang istirahat karena lelah berburu mengayunkan parangnya pada pokok pohon tumbang. Namun, alangkah kagetnya mereka ternyata parang itu malah berlumuran darah. Dari pokok pohon tumbang itu mengucur darah segar. Bahkan, mereka baru sadar kalau yang mereka tebas tadi bukan pohon tumbang tetapi ular raksasa/ ular naga. Melihat hal ini, warga pun beramai-ramai mengambil dagingnya untuk dimasak dalam pesta pernikahan tersebut.
Hari pesta pernikahan anak kepala kampung adalah hari berakhirnya pertapaan Baru Klinting. Benar saja, naga itu berubah wujud menjadi anak kecil. Sayangnya, si anak mengalami kesusahan dalam berbicara karena lidanya dipotong sebagai syarat menjadi manusia. Tak hanya itu, tubuhnya penuh dengan borok yang membusuk lantaran saat bertapa tubunya disayat-sayat untuk diambil dagingnya oleh warga sebagai bahan pesta.
Lalu, anak itu pun mendatangi pesta kepala kampung. Anak itu kelaparan dan memohon agar diberi makanan. Namun, tak satu pun warga yang memedulikannya. Warga malah mengejek dan mengusir anak kecil itu. Melihat nasib anak itu, seorang wanita tua merasa kasihan dan membawanya pulang. Lalu si anak diberi makan dengan lauk berupa daging yang diterima dari pesta kepala kampung. Si anak pun makan dengan lahap tapi dia tak mau memakan daging itu.
“Bu, tadi saya pikir sudah tak ada lagi orang baik di kampung ini. Rupanya, masih ada orang seperti Anda. Bu tolong siapkan lesung (kayu tempat menumbuk padi) bila terjadi sesuatu ibu segeralah naik lesung tersebut” Begitu pesan Baru Klinting selesai makan. Si wanita tua itu pun menuruti ucapan Baru Klinting tanpa banyak pertanyaan kenapa, Lalu, Baru Klinting pun kembali ke tempat pesta.
“Wahai warga semua, lihatlah di tanganku. Aku memiliki sekerat daging. Jika kau mampu memenangkan sayembara yang kuadakan, maka ambillah daging ini. Namun, jika kalian tak mampu, maka berikanlah semua daging yang kalian masak padaku” ucap Baru Klinting.
Warga pun mencoba satu persatu tapi semuanya tak mampu mencabut sebatang lidi tersebut. Sayangnya, warga tetap tak mau mengembalikan daging yang telah mereka masak.
“Lihatlah ketamakan kalian wahai manusia. Lihatlah ketidak pedulian kalian pada sesama, pada manusia yang cacat sepertiku. Bahkan kalian tidak mau mengembalikan hakku! Ketahuilah, daging yang kalian masak itu adalah dagingku saat aku menjadi ular naga. Maka, kalian berhak mendapatkan balasan setimpal!” Baru Klinting pun segera mencabut lidi tersebut.
Keanehan pun terjadi. Dari lidi itu mengucur air, terus menerus hingga menenggelamkan kampung tersebut.
Genangan air itupun berubah menjadi telaga, Sedang orang tua yang memberi makan baru klinting selamat karena naik lesung. Bahkan sejak itu pula, Baru Klinting berubah lagi menjadi ular dengan melingkarkan tubuhnya di dasar telaga yang bentuknya menyempit di bagian bawah itu.Saat ini, telaga itu masuk daerah Ngebel sehingga terkenal dengan telaga Ngebel.
Silsilah Kyai Ageng Mohamad Besari Tegalsari
Tegalsari sudah tidak asing lagi bagi kita, khususya bagi masyarakat Ponorogo. Di Tegalsari inilah lahir tokoh-tokoh terkenal di negeri inij. Sosok yang tak bisa dilepaskan dari Tegalsari adalah pendirnya, yaitu Kyai Ageng Mohamad Besari.
Berikut ini adalah silsilah keturunan pendiri Pondok Tegalsari, untuk silsilah lengkapnya silahkan klik link di bawah silsilah berikut.
Silsilah ini dan sejarah riwayat permulaan dari Gusti Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w. yang menurun ke Tegalsari, Jetis Ponorogo.
Siti Fatimah berputra Baginda Kusen
Baginda Kusen berputra Zainal ‘Abidin
Zainal ‘Abidin berputra R. Alap-alap
R. Alap-alap berputra R. Lumusuh
R. Lumuzuh berputra R. Al – Shodiq
R. Al – Shodiq berputra R. Musarir
R. Musarir berputra R. Samangun
R. Samangun berputra R. Samandakir
R. Samandakir berputra R. Ali Dakir
R. Ali Dakir berputra R. Im. Dja’par Sidik
R. Im. Dja’par Sidik berputra Sjeh Djumadil Qubra
Sjeh Djumadil Qubra berputra Maulana Ibrahim
Maulana Ibrahim berputra R. Rachmad
R. Rachmad berputra R. Satmoto
R. Satmoto berputra Nyai Anom Besari yang wafat dan dimakamkan di Kuncen, Caruban Madiun
Ny. ANOM CARUBAN berputra 3 orang putra :
Kyai Kotib Anom, wafat dan dimakamkan di Klambret desa Srigading Tulungagung.
Kyai Moh. Besari Tegalsari
Kyai Nur Sadiq, wafat dan dimakamkan di Jetis, Tegalsari dan menurunkan Kyai Mukmin, yang wafat dan dimakamkan di Nglawu, Mlarak Ponorogo.
Adapun silsilah dari Kerajaan Majapahit sebagai berikut, Prabu Brawijaya Majapahit berputra Ratu Jenggala Kediri dan yang terakhir ini berputra Pangeran Demang. Pangeran Demang berputra Raden Demang, Raden Demang berputra Kyai Ageng Ngabdul Mursad Tukun Kediri. Kyai Ageng Ngabdul Mursad berputra Kyai Anom Besari, Kuncen Caruban Madiun.
Kyai Muhammad Besari Tegalsari berputra 9 orang :
Nyai Abdurrachman
Kyai Jakub
Kyai Ismangil
Nyai Buchari
Kyai Iskak Coper
Kyai Cholifah
Kyai Ilyas
Nyai Bandjarsari
Kyai Zainal ‘Abidin Raja Selangor
Asal Usul Reog Ponorogo
Reog Ponorogo adalah salah satu kesenian warisan leluhur Indonesia yang sempat diklaim secara sepihak oleh negara Malaysia. Pengklaiman ini sendiri sebetulnya terjadi karena kebudayaan tersebut dibawa oleh warga Ponorogo yang datang dan menetap di Malaysia kemudian berkembang pesat disana, dan pula jika ditinjau dari sisi sejarah, asal usul reog ponorogo memang lahir dan berkembang di Indonesia lebih dulu. Untuk mengetahui asal-usul reog Ponorogo lebih jauh, mari kita simak pembahasan berikut:
Asal Usul Reog Ponorogo
Menurut cerita yang berkembang, asal usul Reog Ponorogo dilatarbelakangi oleh kisah perjalanan Raja Kerajaan Bantarangin, yaitu Prabu Kelana Sewandana yang tengah mencari calon permaisurinya pada tahun 900 Saka. Calon permaisuri tersebut dicari karena kabur dari kerajaan Bantarangin. Calon permaisuri yang bernama Dewi Sanggalangit yang juga adalah putri kerajaan Kediri ini kabur karena tidak ingin dijodohkan dengan sang Prabu Kelana.
Setelah perjalanan berhari-hari, Dewi Sanggalangit pun akhirnya ditemukan disebuah goa ketika ia tengah bersemedi. Ketika diajak pulang untuk dinikahi, putri Kediri tetap tak mau. Sang prabu pun merayunya dengan janji akan menuruti segala apapun permintaan yang diajukan oleh sang calon permaisuri. Dari hasil semedi, sang putripun mendapat wahyu agar memintakan sebuah kesenian baru yang belum pernah ada sebelumnya dimana kesenian tersebut harus menggambarkan bahwa sang calon permaisuri adalah memang orang yang benar-benar dicintai sang raja.
Setelah berpikir cukup keras berhari-hari, akhirnya sang prabu mendapat wahyu dari Dewi Parwati untuk membuat seni pertunjukan berupa tarian menggunakan barongan berupa reog. Reognya sendiri dibuat sangat besar dengan perlambangan cinta berupa bulu burung merak dan kepala harimau. Bulu burung merak melambangkan sang calon permaisuri dan kepala harimau melambangkan sang Prabu. Tarian reog ponorogo kala itupun langsung dipertontonkan pada sang calon permaisuri. Melihat tarian tersebut, sang calon permaisuri pu n sangat senang dan berjanji mau dinikahi sang prabu asal tarian reog tersebut dipertontonkan setiap tahun ketika memperingati hari pernikahan mereka. Sejak saat itulah reog ponorogopun lahir.
Cerita asal usul reog ponorogo tersebut berkembang di masyarakat hingga kini. Kendati demikian, sebetulnya nama reog baru diperkenalkan sejak tahun 1989. Sebelumnya reog dikenal dengan nama REYOG. Nama tersebut diganti oleh Bupati Ponorogo Markum Singomedjo untuk tujuan propaganda pembangunan. Nama REOG dipilih karena sangat cocok digunakan sebagai akronim dari slogan resmi kabupaten ponorogo yaitu “Resik, Endah, Omber, Girang gemirang”.
Demikianlah cerita asal usul reog ponorogo yang dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai awal lahirnya kesenian ini. Semoga cerita ini dapat meyakinkan kita bahwa memang kesenian reog ponorogo memang benar-benar hasil karya budaya leluhur tanah air Indonesia pada tempo dulu.
Asal Usul Ponorogo
Ketika mendengar nama itu setiap orang pasti akan mengaitkannya dengan kesenian adiluhung yang tersohor ke penjuru negeri, REYOG PONOROGO. Banyak dari kita yang sudah mendengar dan mengetahui tentang sejarah asal mula Reog Ponorogo,namun sudah tahukah kita sejarah asal usul kota tempat lahirnya Reyog ini?
Sudah saatnya kita mengenal dan mengenalkan kepada orang lain (siswa) tentang sejarah kota Ponorogo ini. Dengan mengenal lebih dalam tentang Ponorogo, diharapkan bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap Ponorogo. Selain itu dengan belajar tentang sejarah Ponorogo bisa menghargai dan mentauladani perjuangan-perjuangan pendiri Ponorogo.
***
Pada tahun 1478 Masehi Kerajaan Majapahit jatuh dan kemasyhurannya telah hilang kemudian muncullah kerajaan baru yaitu Kerajaan Demak dibawah pimpinan Raden Patah. Raden Bathara Katong yang merupakan putra dari raja Majapahit Brawijaya V ikut bergabung dengan kakaknya Raden Patah di Kerajaan Demak. Raden Bathara Katong dididik kakaknya dengan ajaran-ajaran Islam.
Setelah dewasa Raden Bathara Katong diberi tugas oleh Raden Patah untuk pergi ke Wengker untuk menyelidiki daerah tersebut bersama Senapati Sela Aji. Wengker adalah wilayah yang berada di sebelah timur Gunung Lawu. Batas sebelah selatan adalah laut selatan, batas timur adalah Gunung Wilis dan batas sebelah utara adalah wilayah Majapahit. Raden Bathara Katong dan Senapati Sela Aji tiba di wilayah Wengker ketika hari mulai gelap. Mereka mulai kebingungan untuk menjalankan tugas karena belum mengenal seluk beluk Wengker, ditambah lagi hari yang mulai menginjak malam. Untunglah dari kejauhan terlihat nyala api yang menyala. Mereka segera menuju ketempat asal api menyala. Setelah dekat dari pusat api terlihat sebuah rumah sederhana yang di sampingnya terdapat bangunan surau kecil.
Kedatangan Raden Bathara Katong dan Senapati Sela Aji disambut gembira dan senang hati oleh pemilik rumah dan surau kecil itu, yaitu seorang lelaki tua. Lelaki tua tersebut mengenalkan dirinya dengan nama Kiai Ageng Mirah. Raden Bathara Katong dan Senapati Sela Aji mengaku terus terang jika mereka adalah utusan dari Kerajaan Demak untuk menyelidiki daerah Wengker.
Kiai Ageng Mirah merasa senang hati menerima tamu agung dari Kerajaan Demak. Keduanya kemudian diajak sholat magrib berjamaah. Setelah usai sholat Kiai Ageng Mirah mulai menceritakan seluk beluk dan garis besar daerah Wengker. Setelah hari larut malam, Kia Ageng Mirah menyuruh mereka menginap dirumahnya.
Keesokan harinya Kia Ageng Mirah menyertai Raden Bathara Katong dan Senapati Sela Aji melihat – lihat keadaan. Setelah dirasa cukup Raden Bathara Katong dan Sela Aji kembali ke Demak dengan mengajak Ki Ageng Mirah untuk melaporkan hasil penyelidikkannya. Setelah mendengar laporan dari Bathara Katong, Raden Patah memutuskan mengangkat Raden Bathara Katong sebagai penguasa Wengker, dan mengangkat Senapati Sela Aji sebagai patih. Sedangkan Ki Ageng Mirah diangkat menjadi penasehat. Raden Bathara Katong bersama patih Sela Aji dan Ki Ageng Mirah kembali ke Wengker. Mereka disertai 40 prajurit Demak untuk membuka hutan di Wengker. Sesampainya di Wengker mereka sibuk mencari tempat yang cocok untuk mendirikan kadipaten. Sampai akhirnya mereka sampai di hutan glagah yang berbau wangi. Raden Bathara Katong member nama hutan itu Glagah Wangi. Di hutan inilah rombongan mulai membuka hutan.
Pekerjaan membuka hutan pun selesai, kemudian dilanjutkan membangun tempat tinggal. Namun dalam pembuatan tempat tinggal ini mendapatkan halangan. Ketika rumah telah usai didirikan keesokan harinya rumah-rumah tersebut roboh lagi. Ki Ageng Mirah tahu kalau ada makhluk yang mengganggu. Ki Ageng Mirah kemudian mengajak Raden Bathara Katong untuk bertapa. Pada tengah malam muncul hal gaib yaitu keluar angin besar dan tiba-tiba muncul dua sosok makhluk tinggi besar. Mereka mengaku penunggu hutan yang dibuka Raden Bathara Katong, mereka bernama Jayadrana dan Jayadipa. Kemudian Raden Bathara Katong meminta ijin kepada mereka untuk mendirikan sebuah kadipaten ditempat tersebut. Setelah mendapatkan izin dari Jayadrana dan Jayadipa pembangunan dapat diselesaikan dengan lancar. Jayadipa pula yang kemudian menunjukkan tempat yang cocok untuk pusat kota. Tempat itu berada di tengah-tengah hutan yang sudah dibuka tersebut. Ditempat ini pula Raden Bathara Katong menemukan tiga pusaka. Pusaka yang pertama berbentuk paying yang bernama Payung Tunggul Wulung, pusaka kedua berupa tombak yang bernama tombak Tunggul Naga. Dan pusaka yang ketiga berupa sabuk yang bernama Sabuk Chinde Puspita.
Pada saat Raden Bathara Katong mengambil ketiga pusaka tersebut terjadi tiga kali ledakan besar dan membuat tanah berhamburan. Tanah – tanah yang berhamburan tersebut kemudian membentuk lima bukit. Bukit-bukit tersebut ada yang dinamakan Gunung Lima dan Gunung Sepikul. Sedangkan lobang bekas ledakan menjadi sebuah goa yang diberi nama Goa Sigala Gala. Ternyata ketiga pusaka terrsebut adalah milik ayah Raden Bathara Katong, Prabu Brawijaya V. Saat itu Majapahit di bawah pimpinan Raja Brawijaya V diserang oleh Raja Girindrawardana. Kemudian Raja Brawijaya mengungsi ke Wengker bersama Jayadrana dan Jayadipa.
Raden Bathara Katong semakin mantap membangun Wengker setelah mendapatkan pusaka warisan orang tuanya. Pembangunan Wengker mulai berkembang dengan baik. Hutan sudah berhassil dibuka. Rumah sudah didirikan, banyak pendatang yang ikut bergabung didalamnya. Akhirnya terbentuklah sebuah kadipaten baru. Namun sayang kota tersebut belum mempunyai nama. Untuk member nama kota tersebut, Raden Bathara Katong mengadakan musyawarah. Dari musyawarah tersebut disepakati sebuah nama baru untuk kota tersebut, nama itu adalah Pramono Rogo. Pramono berarti bersatunya cahaya matahari dan bulan yang menyinari kehidupan di bumi, dan rogo berarti badan. Nama Pramono rogo ini lama kelamaan berubah menjadi Ponorogo. Pono berarti tahu akan segala sesuatu, dan rogo berari badan manusia. Jadi Ponorogo berarti manusia yang tahu akan kedudukannya sebagai manusia.
Pesta Sabu, Tiga Warga Sooko Dicokok Polisi
ukaikai-Satresnarkoba Polres Ponorogo berhasil mengamankan warga Sooko yang sedang asyik menggelar pesta sabu di teras rumah RU(43) warga Ngadirojo, Sooko Ponorogo, Senin(02/10/2015).
Ketiga orang yang berhasil diamankan adalah RU(43) warga Ngadirojo, HE(24) warga Desa Suru dan BI(30) warga Klepu Kecamatan Sooko.
“Kami berhasil mengamankan dua orang yang sedang melakukan pesta sabu di teras warga Ngadirojo Sooko,”ucap AKP Harjadi Kasubbag Humas Polres Ponorogo.
Tertangkapnya para pelaku bermula dari informasi masyarakat, bahwasanya di teras rumah RU sering ada orang yang bergerombol dan diduga sedang menggelar pesta sabu.
“Hasil informasi dari masyarakat, disalah satu tempat sering ada anak bergerombol yang diduga terjadi pesta sabu. Setelah dilakukan pengecekan disana memang betul ada pesta sabu, yaitu diteras rumah milik RU yang dilakukan bersama HE warga Suru Sooko,”terang AKP Harjadi.
Dalam penangkapan tersebut petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti yaitu satu bong, satu pipet, satu buah plastik klip yang masih ada sisa sabu , satu sendok yang terbuat dari plastik, dua buah sedotan plastik ukuran pendek, satu buah plastik ukuran sedang, dua kertas grenjeng yang dilinting, dua lembar kertas grenjeng , dua buah korek api gas, satu buah pisau lipat hijau.
“Dari barang bukti dan alat-alat yang digunakan ada bekas dan sisa sabu, sehingga mereka kita bawa ke Polres,”urai AKP Harjadi.
Polisi terus mengembangkannya dengan melakukan pemeriksaan terhadap dua orang pelaku tersebut. Dari pemeriksaan tersangka diperoleh keterangan mereka memperoleh serbuk haram tersebut dari BI(30) warga Klepu Sooko.
“Menurut pengakuanya barang tersebut diperoleh dari BI (30) warga klepu Sooko,”beber AKP Harjadi.
Dari pemeriksaan terhadap BI berhasil diamankan sebungkus rokok Dunhil warna hitam yang didalamnya berisi satu buah plastik klip yang berisi dua plastik klip yang didalamnya terdapat serbuk kristal warna putih yang dililit solasi bening. Barang tersebut diduga sabu dengan berat kotor 0,80 gram.
Atas perbuatanya pelaku dijerat dengan pasal 114 ayat 1 dan atau pasal 112 ayat 1 UU RI No 26 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman maksimal 10 tahun kurungan penjara.
Dua Orang Asal Ponorogo Tewas Dalam Kecelakaan Motor vs Mobil
kecelakaan motor vs mobil
Diduga ban belakang pecah, dua orang asal Ponorogo tewas akibat motor yang mereka kendarai menabrak sebuah mobil dari arah berlawanan, dari arah Sarangan menuju kota Magetan. Sekitar pkl. 10.30 WIB, Rabu (4/11/2015).
Dua korban tewas Eko Setyawan (26) warga desa Ngumpul Kec. Balong Ponorogo, dan Sigit Pramono (25) desa Jati kec. Slahung Kabupaten Ponorogo.
Kronologi, Saat jalur menurun dan berada di tikungan tajam dugaan ban motor belakang pecah sehingga motor oleng dan terjatuh, kata AKP Eko Kasat Lantas Polres Magetan, Rabu (4/11) saat dilokasi kejadian. Setelah terjatuh motor tiger bernomor Polisi AE 3282 SH, menabrak mobil jenis avanza B 2144 PT. Dua pengendara motor tewas ditempat, Dugaan pengendara tidak menguasai medan dan melaju kencang.
Korban langsung dievakuasi dan di bawa ke kamar mayat RSUD dr. Sayidiman Magetan. Korban Sigit, kepalanya membentur aspal dan luka parah yang mengakibatkan meninggal dunia.
Sementara itu akibat tabrakan ini Jalur Magetan - Telaga Sarangan sempat macet akibat motor yang tergeletak di jalan.
Sumber Magetan.Suarakumandang.com
Kebakaran Hutan Gunung Rajeg Wesi, Karang Patihan, Balong
Kebakaran melanda hutan yang berada di Gunung Rajekwesi, Karangpatihan, Balong foto : kanal ponorogo
Kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Kabupaten Ponorogo, nampaknya belum juga usai. Bahkan area yang terbakar kini semakin meluas.
Setelah pada beberapa hari sebelumnya kebakaran melanda hutan pinus yang berada di Desa Ngilo-Ilo, semalam terjadi terjadi lagi di Gunung Rajek Wesi yang berada di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Jumat(30/10/2015).
Sebelumnya hutan yang berada di Gunung Rajekwesi tersebut juga sempat terbakar dan sudah padam, namun tadi malam api terlihat membara lagi.
Kobaran api juga terlihat mulai mendekati pemukiman warga.
Dari kejauhan kobaran api nampak membara membentuk sebuah garis yang tidak terputus.
Kebakaran ini terjadi jumat malam hingga sabtu dini hari tadi api belum kunjung padam, bahkan areanya terus meluas hingga mendekati pemukiman warga sekitar.
Dari keterangan sejumlah warga, kebakaran di gunung ini mulai terlihat sejak sore hari. Namun hingga tengah malam api tidak kunjung padam malah terus meluas.
“Api dari sore sudah terlihat di hutan atas itu mas, tapi dengan kejadian di hutan Desa Ngilo-Ilo itu kami masih trauma untuk melakukan pemadaman,”ucap salah satu warga Karangpatihan yang rumahnya tidak jauh dari hutan yang terbakar.
Selain itu, kondisi tersebut membuat warga resah, sebagian dari mereka mengaku trauma.
Wargapun terpaksa terus berjaga diluar rumah untuk mengantisipasi api menjalar ke pemukiman Karen area hutan yang termbakar semakin mendekati tempat tinggal mereka.
Beberapa hari sebelumnya Gunung Rajek Wesi disisi barat yang masuk Kecamatan Jambon juga sempat terjadi kebakaran besar.
Selang satu hari kemudian kebakaran melanda hutan lindung di kecamatan slahung yang menelan empat korban jiwa. Namun rupanya api di Gunung Rajek Wesi belum padam dan malah menjalar di sisi timur yang masuk wilayah Kecamatan Balong.
Kamis, 05 November 2015
Grup Reog dari Sawoo yang Pemainnya Wanita Semua
REOG WANITA. Inilah Sardulo Nareswari, grup seni Reog putri dari Sawoo, Ponorogo yang pemainnya wanita, termasuk pembarongnya. (foto: ist/ponorogonews)
PONOROGO – NEWS, Ada grup Reog Ponorogo yang unik di Kecamatan Sawoo, Ponorogo. Keunikannya, karena seluruh pemainnya adalah wanita. Seperti apa?
Sardulo Nareswari. Grup Reog dari Sawoo
Pemain Reog Ponorogo asal desa Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Ponorogo ini beranggotakan ibu-ibu PKK, yang bisa dibilang sudah tidak remaja lagi. Dan, Kamis ( 5/10), untuk pertama kalinya grup ini tampil.
Kecuali pemain kendang, semua pemain grup Reog “Sardulo Nareswari” ini wanita termasuk pembarong dadak meraknya. Menurut Ani Suryaningsih, yang menjadi pentholan grup Reog ini, awal pembentukan grup Reog ini menuai kontroversi. Hal ini karena selama ini grup Reog, kecuali Jathilnya selalu identik dengan kaum lelaki.
Meski demikian, Ani, yang juga istri Kepala Desa Sawoo ini biasa dipanggil keinginan besar mereka tak pernah surut. “Meski sebagian warga memberikan stigma “Saru” wanita apalagi yang sudah berumur nggak pantas main Reog, hal itu tak membuat kami surut. Sebagai warga Ponorogo, Kami benar-benar ingin turut melestarikan kesenian asli Ponorogo ini,” terang Ani.
Sardulo Nareswari. Grup Reog dari Sawoo
Selain itu, ditambahkan wanita berjilbab ini, bahwa kegiatan berkesenian Reog ini juga ditujukan untuk kegiatan-kegiatan sosial, seperti melalui pertunjukan, pihaknya juga melakukan penggalangan dana untuk membantu warga yang kekurangan.
“Memang banyak yang tidak menyukai terbentuknya grup ini, sampai ada yang bilang kita menyalahi kodrat, bikin malu, sampai buka aurat. Tapi ada juga yang membela meski yang tidak membela kita juga lebih banyak. Tapi alhamdulillah Reog wanita ini tetap jalan sebagai pertunjukan seni dan penggalangan dana sosial,” papar Ani.
Dan inilah kata Titis (22), pelatih dan sekaligus Pembarong (pembawa dadak merak) serta pemeran Prabu Klonosewandono, yang menyatakan kekegumannya atas antusias ibu-ibu PKK ini dalam bermain reog. Diungkapkan Titis, butuh waktu sekitar satu bulan untuk membentuk dan melatih grup Reog perempuan satu-satunya di Ponorogo atau bahkan mungkin dunia, yang terbukti menarik ratusan orang berebut menyaksikan, pentas perdananya ini.
“Reog perempuan ini luar biasa, saya nggak mengira akan menjadi sebuah grup Reog Wanita yang bagus. Prosesnya sekitar 6 kali latihan. Semanagat ibu-ibu ini luar biasa, mereka bisa menari, karena memiliki jiwa seni. Saya gunakan metode khusus sehingga ibu-ibu mudah menyerap ,” kata sarjana Seni dan Musik yang baru lulus dari Universitas Negeri Malang ini. Wow!! (tim/ponorogonews)

