Senin, 30 November 2015
Sejarah Dan Keistimewaan Masjid Quba
Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW pada tanggal 8 Rabiul Awal 1 Hijriyah. Masjid Quba terletak di luar kota madinah tepatnya sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Masjid Quba yang saat ini berbeda dengan mesjid quba pada saat zaman Rasulullah saw dulu, yang saat ini berdiri adalah mesjid yang telah direnovasi dan diperluas pada masa Kerajaan Arab Saudi. Renovasi dan perluasan masjid quba telah menelan biaya sebesar 90 juta riyal dengan daya tampung hingga 20 ribu jamaah. Renovasi dilakukan pada tahun 1986.
Zaman dulu saat dibangun, masjid ini berdiri diatas kebun kurma dengan luas 1200 meter persegi, dan saat ini luas mesjid quba sekitar 5.035 meter persegi. masjid ini memiliki 19 pintu dengan 3 pintu utama tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama mesjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.
Sejarah Masjid Quba
Sahabat Nabi yang bernama Sayyidina Ammar Radhiyallahu 'anhu dan kedua orang tuanya telah banyak mengalami siksaan yang amat pedih demi mempertahankan keimanan dan tauhid. Mereka dibaringkan di padang pasir di bawah terik matahari Makkah yang panas sekali. Setiap Baginda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam lewat di depannya, beliau menasihati mereka, "Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, janji Allah untuk kalian adalah surga".
Akhirnya, ayah Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu fanhu yang bernama Yasir Radhiyallohu 'anhu wafat akibat penyiksaan itu. Kaum Musyrikin Mekkah tidak membiarkan dia dan keluarganya hidup tenang sampai ia wafat. lbu Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu eanhu yang bernama Sumayyah Radhiyallahu 'anha, ditikam kemaluannya dengan tombak oleh Abu Jahal yang terkutuk, sehingga ia pun mati syahid. la tidak meninggalkan Islam walaupun mengalami berbagai penderitaan di saat umurnya sudah tua dan fisiknya sudah lemah. Walaupun begitu, Abu Jahal tidak menaruh belas kasihan kepadanya. Dialah orang yang pertama kali mati syahid dalam sejarah Islam.
Dalam sejarah Islam, masjid yang pertama dibangun adalah masjid Quba. Ketika Baginda Nabi SAW dalam perjalanan hijrah ke Madinah, di kampung Quba, Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu 'anhu mengusulkan, untuk membangun tempat berteduh bagi Baginda Nabi Shallailahu alaihi wasallam agar dapat beristirahat siang dan mendirikan shalat dengan tenang. Lalu, Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu 'anhu mulai mengumpulkan batu-batu dan mendirikan masjid.
Dan Rasulullah saw adalah yang pertama kali meletakkan batu tepat di kiblatnya, Abu bakar kemudian datang membawa batu dan meletakkannya. Dilanjutkan Umar yang meletakkan batu disamping batu abu bakar. Setelah itu barulah kaum muslimin beramai ramai membangunnya.
Tatkala Rasulullah membangun Mesjid Quba, Sayyidina Ammar bin Auf datang membawa batu yang diikatkan di perutnya lalu meletakannya. Seorang pria kemudian datang hendak mengangkatnya, tetapi dia tidak kuat. Rasulullah pun menyuruh lelaki itu meninggalkannya dan mengambil batu yang lain.
Sayyidina 'Ammar Radhiyollahu anhu selalu menyertai setiap peperangan dengan penuh semangat. terkadang Beliau dengan penuh suka cita berkata dalam suatu peperangan, "Sebentar lagi akan kujumpai kekasih-kekasihku, Baginda Nabi saw beserta jamaahnya". Kemudian Beliau merasa sangat haus. Beliau meminta segelas air dari seseorang, namun orang itu menyodorkan kepadanya segelas susu. Beliau meminumnya lalu berkata, " Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: 'Yang terakhir kamu minum di dunia ini adalah susu'. setelah berkata demikian, Beliau pun mati syahid. Beliau meninggal dunia pada usia 94 tahun, dan ada lagi sebagian riwayat yang menyatakan Beliau meninggal dalam usia 92 tahun. (Fadhilah amal)
Keutamaan Masjid Quba dalam Quran dan Hadits
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
"....Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut untukmu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih" (QS At Taubah: 108)
"Ketika pembangunan Masjid ini selesai, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana."( HR. Bukhori Dan Muslim)
Shalat di masjid Quba memiliki keutamaan. Menurut Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhum, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian pergi ke Masjid Quba, lalu ia shalat di dalam masjid quba, maka baginya pahala seperti pahala umrah”.( HR. Tirmdzi)
Karena saya bukan bangsawan, saya tidak bisa jatuh cinta
25-04-2009 kala itu aku masih SMP kelas 3, dan dia SMA kls 3. Setiap hari kita selalu menyempatkan waktu untuk bersama, menjemputku pulang sekolah untuk makan siang bersama atau bahkan hanya untuk berbagi cerita.
Masa-masa sekolah aku jalani penuh dgn warna semenjak ada dia, aku tdk pernah ingin mengenal laki2 lain semenjak bersamanya.
Dia bisa menjadi teman, sahabat, ayah, sekaligus kakak.
2012 saat aku tamat SMA kita LDR, dia tetap ada di daerah sementara aku di ibukota, jarak bukan penghalang untuk kita, seringkali dia menyempatkan waktu untuk mengunjungiku. hal ini berlanjut hingga 2013 akhir dia lulus menjadi seorang PNS.
Tidak ada yang berubah diantara kita, komukasi tetap intens seperti dulu bahkan rencana untuk menikah selalu kita bahas.
2015 kini aku berusia 21 tahun, artinya sudah 6 tahun kita menjalani hubungan ini, semua terasa begitu indah karena kita berdua sdh memiliki pekerjaan, sehingga persoalan2 keuangan yang dulunya kita merasa kurang alhamdulillah kita bisa saling mengisi.
“Aku Ingin Menikah agar hubungan kita Halal, dan mendapat kesempurnaan dalam agama” seringkali aku bicara seperti itu kepadanya.
Orang tua nya tidak merestui hubungan kita, dengan berbagai alasan, karena aku pegawai swasta & dia menginginkan menantu PNS, karena aku bukan dari keluarga yang memiliki nama depan ‘ANDI’ (Istilah kebangsawanan sulawesi) .
Kakaknya seringkali menerrorku dengan berkomentar memalukan terhadap post ku yang ada di sosmed. “jangan terlalu ngarep yaa.. adekku sdh dijodohkan dgn wanita lain” begitu kata kakaknya.
Hatiku seringkali geram ingin membalas komentarnya, lagi lagi aku masih sabar menghadapinya. Aku menyayangkan karena dia tidak berusaha memperjuangkanku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi,
“Untuk apa kita menjalani hubungan yang tidak jelas ini” begitu kata2ku dalam sms, dia tetap mempertahankan tapi aku bersikeras untuk mengakhiri.
Sampai sekarang dia masih terus menghubungiku, dia sering cerita kalau dia susah makan susah tidur & selalu menangis.
Tapi apa dayaku, ku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaannya kelak, semoga pilihan orang tuanya adalah yang terbaik. untukmu nama yang selalu aku doakan, untukmu lelaki yg pernah kuperjuangkan.
Maaf kisah kita harus kutuangkan lewat curahan ini, aku selalu berdoa yang terbaik untukmu. Terimakasih
MENGAPA HAWA TERCIPTA SAAT ADAM TERTIDUR ?
Hawa diciptakan oleh Allah untuk mendampingi Adam
Hawa diciptakan oleh Allah untuk mendampingi Adam dan menjadi teman hidupnya menghilangkan rasa kesunyian dan melengkapi keperluan fitrahnya justru mengembangkan keturunan.
Telah diceritakan oleh para Ulama, Hawa telah diciptakan ketika Adam sedang tidur. Mengapa Hawa tercipta ketika Nabi Adam sedang tidur ?
Lumrah sifat lelaki, jika disakiti mereka akan membenci. Namun, sebaliknya untuk wanita apabila mereka disakiti, maka bertambahlah sayang dan cintanya.
Seandainya Hawa diciptakan ketika Adam sedar dan dikeluarkan dari sulbinya,maka akan sakitlah Adam justeru membuatnya benci akan Hawa.
Allah s.w.t manjadikan Hawa dari tulang rusuk sebelah kiri yang bengkok yang tugasnya menjaga jantung dan hati nurani
(Qalbu). Adam sementara itu, diciptakan daripada tanah yang akan menjadikan mereka petani, tukang kayu, tukang besi dan tukang kayu.
Wanita selalu berinteraksi dengan perasaan dan hati (Qalbu).
Wanita akan menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang, menjadi saudari yang penyayang, putri yang manja dan isteri yang menurut perintah.
Bagi seorang suami atau lelaki, adalah wajib untuk tidak meluruskan tulang yang bengkok itu (perempuan).
Maksudnya, seperti yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w, "Jika seseorang lelaki secara serta merta meluruskan yang bengkok tersebut, ia akan mematahkannya". Bengkok yang dimaksudkan adalah perasaan seorang perempuan.
Maka lelaki janganlah merendahkan perasaan seorang perempuan. Mereka memang tercipta seperti itu. Apabila mereka menyatakan mereka bersedih walaupun tidak menitiskan air mata, tapi hati mereka sebenarnya sedang menangis.
Apabila mereka tidak menghiraukan kamu ketika mereka sedang bersedih setelah disakiti, berikan mereka masa untuk
menenagkan diri sebelum pergi untuk meminta maaf.
Para wanita juga agaklah amat sulit untuk mencari titik benci daripada orang yang mereka amat sayangi. Wanita/ perempuan diciptakan untuk lelaki untuk saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Jika ada manusia benar-benar bertolak belakang dengan lelaki jadi itulah wanita.
"Dibalik kesuksesan seseorang Lelaki, terdapat seorang wanita hebat dibelakangnya."
Subhanallah...
Semoga bermanfaat...
Inikah Ikan yang Diceritakan Al Qur'an? Bisa Hidup Tanpa Air
Ikan yang bisa hidup di darat atau tanpa air, ada yang menamainya: Lungfish (Protopterus sp). Ikan ini bisa hibernasi bertahun-tahun darat
Ikan ini dakui sebagaimana yang diceritakan dalam ayat suci Al Qur'an, surat Al Kahfi.
Bagaimana kisah ikan itu? berikut kisahnya, disampaikan netizen Luqman Hakim di Facebook:
"Maka apabila mereka berdua sampai ke tempat pertemuan dua laut itu, lupalah mereka akan hal ikan mereka, lalu ikan itu menggelongsor menempuh jalannya di laut, yang merupakan lorong di bawah tanah. (61)
(Lihat ikan itu telah mengering, dan kena semula air, dan hidup, dan lihat ikan itu menggelungsur bawah tanah, dan menggelungsur meninggalkan bekas jalannya)
Kisah Musa dan Khidr dituturkan dalam Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82.
Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab, menceritakan, beliau mendengar Nabi Muhammad bersabda: "Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, Siapakah orang yang paling berilmu?
Nabi Musa menjawab, "Aku". Lalu Allah SWT menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, "Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu".
Lantas Musa pun bertanya, "Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?".
Allah pun berfirman, "Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu."
Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang saleh itu.
Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut. Musa kemudian menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh.
Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut.
Yusya terpegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.
Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa.
Mereka kemudian meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya, Nabi Musa berkata kepada Yusya` "Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Surah Al-Kahfi : 62)
Ibn `Abbas berkata, "Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu."
Yusya berkata kepada Nabi Musa, "Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh." (Surah Al-Kahfi : 63)
Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.Musa berkata, "Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula." (Surah Al-Kahfi : 64)
Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya.
Khidir menjawab salamnya dan bertanya, "Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan? Siapakah kamu" Jawab Musa, "Aku adalah Musa".
Khidir bertanya lagi, "Musa dari Bani Israil?" Nabi Musa menjawab, "Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan."
Khidir menegaskan, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.@ (Surah Al-Kahfi : 67)
Wahai Musa, "sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya."
Nabi Musa berkata, "Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun." (Surah Al-Kahfi : 69).
Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu." (Surah Al-Kahfi : 70).
Inilah Kebenaran Al-Quran tentang Keberadaan Gunung Pelangi di China
TAK ada keraguan tentang firman Allah yang diturunkannya melalui ayat-ayat dalam Al-Quran. Fenomena-fenomena yang dijelaskan Al-Quran, yang hadir di muka bumi 1400 tahun lalu kini pun sudah banyak adanya dan terbukti salah satu diantaranya merincikan tentang gunung pelangi di China.
Seperti halnya Surat Ar Rahman ayat 19-20 yang menyebutkan fenomena alam berupa pertemuan dua lautan yang tidak bercampur, ternyata fenomena gunung berwarna-warni yang difirmankan Allah dalam Surat Al Fahir 27, pun benar adanya.
Meskipun demikian,mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui fenomena alam yang indah tersebut, gunung-gunung yang berwarna-warni di Zhangye Danxia, provinsi Gansu, Cina.
Gunung yang terletak di China ini tampak seperti hamparan pelangi karena itu orang menyebutnya ‘rainbow mountain’.
Gunung pelangi seluas 300 kilometer persegi ini merupakan bagian dari Zhangye Danxia Landform Geological Park yang terletak di provinsi Gansu, China.
Fenomena Alam yang Menakjubkan
Menurut Telegraph, warna-warni perbukitan yang menakjubkan tersebut berasal dari batuan pasir merah dan mineral yang terbentuk sejak Periode Kapur, tepatnya 24 juta tahun lalu.
Gunung ini akan menampilkan pola warna yang berbeda-beda, tergantung pada kondisi cuaca dan pencahayaan matahari. Warna-warni gunung ini akan semakin kontras jika turun hujan pada hari sebelumnya.
Bukit dan lembahnya terdiri dari lapisan warna merah, biru, hijau zamrud, coklat, dan kuning. Meskipun demikian, di sana tidak ditemui tumbuhan atau hewan apapun karena kondisi tanahnya yang tandus.
Apakah Nabi Muhammad SAW pernah ke Cina?
Tidak pernah sama sekali. Tiada lain tiada bukan, informasi tersebut bersumber dari wahyu Allah SWT semata. Al-Qur’an telah menginformasikan fenomena alam tersebut 14 abad yang lalu.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (QS. Fathir 27)
Fenomena alam yang menakjubkan ini merupakan contoh geomorfologi petrografi yang terbentuk karena kondisi lingkungan.
Seperti dilansir fikriarista.net, saat gunung ini pertama kali diketahui khalayak melalui foto yang beredar di dunia maya. Banyak orang beranggapan kalau pola pelanginya merupakan hasil rekayasa komputer. Tetapi sekarang Zhangye Danxia Park menjadi salah satu objek wisata paling dicari di China.
Inilah Kuburan Raja ‘Abdullah
Inilah Kuburan Raja ‘Abdullah
Tentu saja, dengan kekayaannya, sang raja sangat mampu membangun istana megah di kuburnya itu sebagai lambang keperkasaan, seperti kubur-kubur mewah di Nusantara kita.
Tetapi tidak, biarlah sang raja yang telah menghafal al-Qur’an saat berumur 10 tahun dan menghafal matan kitab-kitab tauhid dan mutun ilmiah lainnya itu seperti rakyatnya di tempat dan tanah yang sama.

Tak ada semen, tak ada keramik-keramik mahal yang menyelimuti tanah gundukannya. Hanya dua papan kayu yang menghujam.
Tak ada nama dan tulisan bahwa kuburnya adalah kuburan seorang raja. Semua kuburan berbentuk dan berukuran sama. Tak ada pemakaman khusus. Semuanya sama disejajarkan dengan para rakyat jelatanya.
Sungguh, semuanya sunyi dari keharaman dan begitu sederhana untuk kuburan seorang pemimpin.
Terima kasih wahai pelayan kaum muslimin di seluruh dunia. Engkau berjasa dan di akhir hayatmu engkau telah mengajarkan sebuah kesederhanaan.
Sebuah Kisah untuk Para Pelaku Pornografi dan Pornoaksi
Akhwatmuslimah.com – Apa jadinya bila seorang pemuda sholeh digoda oleh wanita cantik? Kepada para pelaku pornografi dan pornoaksi, bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Kecantikan dan keindahan tubuh adalah ujian. Kisah ini pun bisa menjadi inspirasi bagi da’i dalam berdakwah. Bahwa berda’wah itu harus lemah lembut, bukan dengan kekerasan ataupun caci maki kepada pelakunya. Karena hati, hanya bisa disentuh oleh hati. Selamat membaca. semoga memberikan pencerahan bagi kita semua.
Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu!”
Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.
Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.
Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’. Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’.
Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’, maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk pada pesona kecantikannya.
Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan. Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa siap, ia mendatangi rumah Rabi’ bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu rumah menunggu Rabi’ bin Khaitsam datang dari masjid.
Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi’ datang. Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam. Ia menyapa Rabi’,
“Assalaamu’alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga?”
“Wa’alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar.” Jawab Rabi’ tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam.
“Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri.” Kata wanita itu sambil memegang cangkir.
Rabi’ agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi’ dengan kecantikannya.
Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu,
“Wahai saudari, Allah berfirman,“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?!
“Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini ?!
“Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?!”
Suara Rabi’ yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi’ mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi’ dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi’ itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.
Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi’ kaget mendengar wanita itu bertobat. Mereka mengatakan,
“Malaikat apa yang menemani Rabi’. Kita ingin menyeret Rabi’ berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi’ yang membuat wanita itu bertobat!”
Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat. Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir. [ANW]
Sumber: Buku “Di Atas Sajadah Cinta… Kisah-Kisah Teladan Islami Peneguh Iman dan Penenteram Jiwa”
Waww..!! Sedekah Sepuluh Ribu Dibalas Sepuluh Juta
KISAH ini dialami oleh sahabat karib saya dikala bln Ramadhan tempo hari. Seuah kisah yg membuka mata hatiku, dikarenakan saya tahu prosesnya dari awal sampai balasan sedekah itu di terima. Sekarang, kisah ini saya bagikan pada anda, mudah-mudahan berguna & menambah semangat kita selalu untuk bersedekah meski dalam kesempitan atau dirundung masalah.
Sahabat saya tersebut waktu bln Ramadhan tempo hari baru satu bln pindah dari tugas lamanya. Dirinya memilih menjadi marketing properti di salah satu perusahaan pengembang perumahan. Nyaris 2 bln bekerja, sahabat saya tersebut belum dapat menjual satu rumah pun di perusahaan tersebut. Padahal setiap bln dirinya mendapat gaji yg cukup, perihal inilah yg menciptakan dirinya tak enak.
Di tengah keputusasaan tersebut, beliau teringat akan kemampuan sedekah. Hasilnya beliau berniat menyedekahkan hartanya utk mengatasi permasalahan hidupnya. Ia menyedekahkan uang miliknya Rp. 10.000, utk panti asuhan dengan harapan agar Allah SWT melancarkan pekerjaannya.
Sungguh di luar dugaan, dalam kurun diwaktu 1 jam saja, Allah SWT berikan kelancaran bagi pekerjaannya. Ia mampu menjual 4 rumah sekaligus di hari itu. Bersama nilai komisi 10 juta! Mari dihitung berapa kali lipat Allah SWT membalas sedekah ia.
Kenapa balasannya teramat agung? Sebab duit 10 ribu saat itu, amat sangat berarti bagi ssahabat saya. Kamu tahu berapa duit yg beliau punyai dikala menyedekahkan 10 ribu tersebut? Uang yg ia miliki di dompetnya tak lebih dari 20 ribu. Ia hanya menyisakan uang bensin utk pulang ke rumah.
Waktu kita miliki keyakinan tinggi dapat kedahsyatan sedekah, Allah SWT akan membuktikannya kepada Kita. Diwaktu kita percaya Allah SWT dapat membantu melalui sedekah kita, Allah SWT bisa benar-benar mengabulkan “SAAT ITU JUGA” seperti yg dialami sahabat saya tersebut.
sumber: https://www.islampos.com/sedekah-sepuluh-ribu-dibalas-sepuluh-juta-123734/
Jasad suami belum dikubur, si istri menyusul meninggal dunia
Meninggal oleh sebab normal, kisah cinta sehidup semati yang mengharukan.
Reporter : Angga Roni Priambodo
Kisah cinta mengharukan dialami oleh Sigit Santosa, seorang warga Solo, Jawa Tengah. Ia menjadi saksi kisah nyata cinta sejati antara sang kakek dan nenek. Sepasang suami-istri itu meninggal dunia dalam waktu yang hanya terpaut beberapa jam disebabkan natural bukan karena kecelakaan atau pembunuhan.
Ia membagikan kisah yang dialaminya tersebut di akun Facebook komunitas masyarakat Solo, Rabu (28/10) lalu. "Lur dongakkne mbahku ya. Mugo2 diparingi tempat seng plg indah. Mbah kakung meninggal wingi jam 2 siang, rencana di kubur td jam 10 , , mbah putri gak mau ditinggal, jam 4 pagi ikut meninggal,akhire dikubur td jam 11 di 1 liang lahat,suwunn lur. (Saudara, doakan eyangku ya, semoga dapat terindah. Kakek meninggal kemarin selasa jam 2 siang rencana dimakamkan hari ini jam 10. Nenek seakan nggak mau ditinggal, jam 4 pagi tadi ikut meninggal. Keduanya akhirnya dimakamkan jam 11 siang ini dalam satu liang lahat, terima kasih)" tulisnya menyertai dua foto yang diunggahnya.
Anggota akun komunitas itupun seakan kagum dengan cara keduanya meninggal. Di antara 200-an lebih komentar, seorang anggota menuliskan, "Inalillahi3x ya itu namanya setia sehidup semati mas. Amin amin amun." Komentar senada juga banyak dituliskan para anggota akun tersebut.
Ya, mungkin itulah cinta sehidup semati. Bukan di kisah sinetron, tapi dunia nyata.
Minggu, 29 November 2015
Siapa Dr. Zakir Naik Sebenarnya?
Siapa Dr. Zakir Naik Sebenarnya?
SIAPA yang tidak kenal Dr. Zakir Naik? Seorang ulama India, penulis dan perbandingan agama yang kerap menyampaikan dakwah lewat debat dan ceramah di seluruh dunia.
Disarikan dari wikipedia, nama lengkapnya adalah Zakir Abdul Karim terlahir pada 18 Oktober, 1965 Mumbai (Bombay pada waktu itu). Secara profesi, ia adalah seorang dokter medis, memperoleh gelar Bachelor of Medicine and Surgery (MBBS) dari Maharashtra, tapi sejak 1991 ia telah menjadi seorang ulama yang terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama.
Ia menyatakan bahwa tujuannya ialah membangkitkan kembali dasar-dasar penting Islam yang kebanyakan remaja Muslim tidak menyadarinya atau sedikit memahaminya dalam konteks modernitas.
Zakir Naik adalah pendiri dan presiden Islamic Research Foundation (IRF)sebuah organisasi nirlaba yang memiliki dan menyiarkan jaringan saluran TV gratis, Peace TV dari Mumbai, India.
Jika kita melihat tayangan video di
Youtube, debat dan cermah Dr. Naik seringkali dihadiri oleh ribuan jamaah. tidak hanya hanya orang Islam saja juga oleh kristen, hindu, budha, bahkan ateisme yang kerap kali menjadi jamaah dan mengambil kesampatan pada sesi tanya-jawab.
Ketika diberi pertanyaan yang tak jarang menentang Islam, ia selalu mengawali jawabannya dengan memuji pertanyaan yang dilontarkan penanya, lalu menjawab dengan sistematik, Dr. Zakir Naik menjawab pertanyaan tersebut dari mendasar kemudian dengan pengandaian-pengandaian yang dengan mudah ditangkap akal sehat, serta tak lupa ia sertai dengan dalil-dalil yang lebih meyakinkan para penanya.
Dr. Zakir Naik dengan kemampuan yang dimilikinya berupa hafalan yang teramat kuat tidak hanya mampu menghafalkan Al-Qur’an dan Shahih Bukhari Muslim, akan tetapi beliau juga telah menguasai kitab Weda, Tripitaka, Bhagavad gita, bahkan telah menggerakkan hati ribuan penganut Hindu di India dan menjadi mu’allaf. Beliau tanpa ragu-ragu juga mengoreksi pastur dan pendeta jika mereka salah dalam mengutip ayat-ayat dalam bibble atau injil.
Bahkan Zakir Naik sempat membuat kemarahan komunitas Syiah dalam Konferensi Damai di Mumbai pada tahun 2007, ketika ia menyebutkan kata-kata “Radhiyallah taa’la anhu” (Semoga Allah meridhoinya) untuk Yazid. Dan sekarang mulai terlihat orang-orang yang tidak bertanggung jawab mulai menebar fitnah. Setelah Orang-orang Syiah, musuh-musuhnya yang lainnya pun mulai menghembuskan isu Wahabi kepada Dr. Zakir Naik.
Dr. Zakir Naik sendiri memiliki tokoh yang menjadi inspirasinya yakni Ahmed Deedat. Namun, Dr. Zakir Naik tidak memiliki banyak agenda Debat Terbuka layaknya Ahmed Deedat karena hampir semua tantangan debat yang dilayangkan oleh Dr. Zakir Naik tidak mendapat respon dari gereja-gereja, bahkan sampai sekarang belum ada berita apakah ada Pendeta yang berani berhadapan langsung dengan beliau. Oleh karena itu, Dr. Zakir Naik dijuluki “Ahmed Deedat Plus” yang telah membuat pastur dan pendeta merasa ngeri berhadapan dengan beliau yang argumentasinya belum pernah terpatahkan.
Dakwah-dakwahnya disampaikan dengan mudah dapat diakses melalui situs youtube yang kebanyakan berasal dari saluran Peace TV yang direkam dengan kefasihan beliau dalam berbahasa Inggris, bahkan beberapa telah disertai subtitle Indonesia.
Di antara Orangtua dan Istri, Manakah yang Harus Didahulukan Seorang Suami?
Persoalan suami yang mendahulukan orangtua daripada anak-istrinya seringkali menjadi salah satu faktor pertengkaran keluarga. Tapi, bukankah seorang anak juga tidak boleh menelantarkan orangtuanya sendiri?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ayah-ayah kamu dan anak-anak kamu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka itu yang lebih dekat manfaatnya buat kamu. (Yang demikian itu) adalah satu ketentuan dari Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (an-Nisa’: 11)
Sementara itu, Allah juga telah mengingatkan bahwa hanya Allah yang boleh menjadikan posisi orangtua menjadi prioritas kedua bagi seorang anak. Tidak boleh ada hal lain yang membuat seseorang menggeser prioritas orangtuanya, kecuali Allah.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-sekali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik” (QS. Al-Isra: 23)
Orangtua yang telah melahirkan kita ke dunia, membesarkan dan memberikan pendidikan kepada kita memanglah keluarga yang harus kita dahulukan prioritasnya. Tapi, bukankah istri yang telah kita halalkan dan juga anak-anak yang merupakan darah daging kita juga adalah keluarga?
Kedua-duanya adalah juga keluarga, meski kita mungkin baru bertemu dengan istri setelah dewasa, bukan sepanjang hidup seperti kita dengan orangtua. Maka, sebaiknya seorang lelaki dapat menyeimbangkan kebutuhan keduanya, sehingga tidak ada satupun yang merasa terpinggirkan. Seorang istri juga sepatutnya menyadari bahwa dengan menjadikan lelaki tersebut sebagai imamnya, ia juga telah bergabung menjadi keluarga si lelaki, yang berarti orangtua si lelaki adalah orangtuanya juga.
“Jika Allah ta’ala memberikan kepada salah seorang di antara kalian kebaikan – nikmat atau rezeki, maka hendaknya dia memulai dengan dirinya dahulu dan keluarganya” (HR. Muslim)
(jef)
Begini Nasib Anak Yang Tak Pernah Menegur Ibunya Selama 6 Tahun
Suatu hari, Rasulullah SAW berada di sisi seorang pemuda yang sedang mengalami sakaratul maut. “Wahai pemuda, ucapkanlah kalimat tauhid laa ila ha ila llah,” kata Rasul membimbing.
Lidah pemuda itu kaku. Dia tak mampu lagi mengucapkan syahadat. Rasulullah bertanya ke hadirin,
“Apakah ibu pemuda ini ada di tengah-tengah kalian?”
Dengan ragu-ragu, seorang perempuan tua yang berdiri di bagian kepala pemuda itu berkata,
“Ya, saya adalah ibunya.”
“Apakah engkau merasa rela dan senang dengan anakmu?”
Ibu itu menjawab apa adanya.
“Tidak, saya tidak bertegur-sapa dengannya selama enam tahun.”
“Wahai Ibu, relakanlah kesalahannya.”
“Demi menyenangkan hati Anda, Ya Rasulullah, saya rela kepadanya dan semoga Allah juga rela kepadanya.”
Kemudian Rasulullah menghadap pemuda itu seraya bertanya, “Wahai pemuda, apa yang sekarang engkau saksikan?”
Dia menjawab, ” Saya menyaksikan seorang berwajah buruk dan berbau busuk dan sekarang tengah mencekik saya.”
Rasulullah mengajarkan suatu doa kepadanya sebagai berikut, “Wahai Tuhan yang menerima amal yang sedikit dan memaafkan dosa yang banyak, terimalah amalku yang sedikit dan ampunilah dosaku yang banyak; Duhai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Pemuda itu membaca doa tersebut. Kemudian, Rasul bertanya, “Sekarang apa yang kau saksikan?”
Dia menjawab, “Sekarang saya melihat seseorang yang berwajah putih, bersih, rupawan, tubuhnya harum, mengenakan pakaian indah, dan bersikap baik kepada saya.”
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut dan ditutup dengan kalimat tauhid, dia pun meninggal. Laki-laki itu meninggal dalam dekapan sang ibunda yang telah meridhainya. (Mozaik/Inilah.Com)
Sabtu, 28 November 2015
Inilah 6 Cara Rasulullah Membahagiakan istri!! SAMPAIKAN pada SUAMIMU!
Dear Bunda,
Rasulullah adalah teladan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam rumah tangga. Apa sajakah yang Rasulullah lakukan untuk membahagiakan istrinya? Mari kita simak pembahasan beberapa hadits berikut ini:
1. Rasulullah suka berbincang-bincang dengan istrinya di malam hari
Pasangan suami istri yang tidak pernah berbagi cerita, tidak pernah berkomunikasi, tentu saja akan merasakan kekeringan dalam rumah tangga.
“Adalah dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika berkumpul bersama Aisyah Radhiallahu anhaa di malam hari maka Rasulullah berbincang-bincang dengan putri Abu Bakar Radhiallahu anhumma” (HR Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa suami yang baik adalah lelaki yang meluangkan waktunya untuk berbicara dengan istri. Berbincang seputar hal yang bermanfaat. Entah perkara dunia atau akhirat. Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa rumah tangga yang harmonis terwujud manakala terjadi komunikasi yang baik antar anggota keluarga
2. Rasulullah suka membantu pekerjaan rumah tangga
Para suami yang tiap di rumah hanya bisa mengganti channel televisi, membaca surat kabar, tertidur pulas, dan makan, cobalah membahagiakan istri dengan membantu beberapa pekerjaan rumah tangga yang bisa dilakukan.
“Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu anhumma pernah ditanya oleh salah seorang sahabat. "Apakah yang Nabi lakukan ketika berada di rumah bersama istri-nya?" "Dahulu Nabi biasa membantu pekerjaan rumah keluarganya". tutur Aisyah Radhiallahu anhaa” (HR Bukhari)
3. Rasulullah menyatakan rasa cinta pada istri secara verbal
Jangan biarkan istri menebak-nebak bagaimana sebenarnya perasaan suami terhadapnya, karena sungguh itu sangat menyedihkan. Para istri akan sangat bahagia jika suami mau menyatakan cinta, sekalipun itu hanyalah kebohongan, asal tidak diketahui istri tidak mengapa.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bertutur: "Aku diberi rizki berupa rasa cinta kepada istriku" (HR Muslim)
Hadits ini memberi anjuran untuk menyatakan cinta kepada istri. Menampakkan dan menyatakan rasa cinta kepada istri adalah di antara cara merekatkan hubungan cinta kasih antar lelaki dan wanita yang diikat dalam bingkai pernikahan
4. Rasulullah tidak pernah membenci istrinya!
Nabi shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya), jika ia membenci sebuah sikap (akhlak) istrinya maka ia akan ridho dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain” (HR Muslim)
Berkata An-Nawawi, “Yang benar adalah Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam melarang, yaitu hendaknya dia tidak membencinya karena jika mendapati sikap (akhlak) yang dibencinya pada istrinya maka ia akan mendapati sikapnya yang lain yang ia ridhai. Misalnya wataknya keras namun ia wanita yang taat beribadah, atau cantik, atau menjaga diri, atau lembut kepadanya, atau (kelebihan-kelebihan) yang lainnya”
5. Rasulullah tidak pernah memukul istrinya
Suami yang ringan tangan, gemar menampar dan memukul istri adalah suami yang tidak mengerti bahwa Islam meninggikan perempuan.
“Aisyah Radhiallahu anhaa pernah bertutur: Suamiku tidak pernah memukul* istrinya meskipun hanya sekali” (HR Nasa'i)
*pukulan yang menciderai atau pukulan di wajah. Adapun apabila seorang istri melakukan pembangkangan kepada suami, maka diperbolehkan memukulnya dengan pukulan yang tidak menyebabkan cedera dan tidak pula mengenai di muka. Allahu a'lam. Sesungguhnya lelaki sejati tidak akan pernah memukul istri semarah apapun yang bersangkutan kepada pasangannya. Memukul istri adalah akhlak pria durjana
6. Rasulullah Menghibur kesedihan istri
Tidak hanya bersenang-senang dengan istri di saat gembira, Rasulullah pun peduli pada istri di kala istrinya menangis dan bersedih.
“Suatu saat Shafiyah safar bersama Rasulullah, saat itu adalah hari gilirannya. Dia ketinggalan (rombongan) karena untanya berjalan lambat, lalu menangis. Maka Rasulullah datang mengusapkan air mata dengan kedua tangannya kemudian berusaha membuat Shafiyah berhenti menangis” (HR Nasa'i)
Pelajaran yang diambil dari hadits ini adalah bahwa menghibur istri adalah kewajiban suami. Berusaha menghilangkan kesedihan dan kesusahan istri adalah sesuatu yang disyariatkan Islam. Suami yang baik tidak akan tahan dan tinggal diam manakala melihat istrinya menangis atau bersedih hati.
Demikianlah beberapa ulasan hadits mengenai cara Rasulullah membahagiakan istrinya, semoga bermanfaat untuk mewujudkan rumah tangga yang penuh cinta kasih.
Stop Menggunakan Kata ”SUNNAH RASUL” Dimalam Jum'at, Baca Nih Akibatnya.....
Sudah menjadi kebiasaan kalau hari kamis malam (atau malam Jumat), banyak tersebar kicauan atau status di social media yang isinya berkisar pada perkataan “Sunnah Rasul”. Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari di dunia nyata, istilah tersebut juga sering terdengar. Menurut mereka, istilah “Sunnah Rasul” yang populer di malam Jum’at adalah penghalusan dari hubungan suami istri atau ML. Coba lihat sejenak hasil penelusuran super singkat ini, bagaimana ribuan kicauan serasa berlomba-lomba menyebut istilah “Sunnah Rasul”.
Bagi mereka yang muslim dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi karena ingin menutupi sesuatu yang dianggap vulgar / tabu baginya bila disampaikan dalam ruang publik. Tapi akibatnya fatal, karena telah menyempitkan arti dari sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an menjadi hanya sebuah aktifitas seks belaka.
Sedangkan bagi mereka yang berhati fasiq dijangkiti penyakit islamophobia dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi hanya ingin mengolok-olok, karena baginya ajaran Islam identik dengan urusan sex atau selangkangan. Sehingga tidak segan-segan menuduh dan melecehkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya doyan kimpoi dan pedofilia. (Insya Allah, soal ini nanti akan saya bahas)
Dari mana asalnya muncul istilah “Sunnah Rasul” yang di-identikkan dengan aktivitas ML?
Semuanya berawal dari hadits ini:
Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.”
Dalam hadits yang lain ada disebutkan sama dengan membunuh 1000, ada juga yang menyebut 7000 Yahudi.
Sebenarnya bagaimana derajat hadits tersebut, apakah shahih, dhaif atau palsu?
Hadits di atas tidak akan ditemukan dalam kitab manapun, baik kumpulan hadits dhaif apalagi shahih. Kalimat tersebut tidak mempunyai sanad / bersambung ke sahabat, apalagi ke Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akhirnya pada satu kesimpulan bahwa hadits “Sunnah Rasul” di atas adalah sama sekali bukan hadits, itu hadits PALSU yang telah dikarang oleh orang iseng, orang tidak jelas, dan tidak bertanggung-jawab yang mengatasnamakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bahkan kita tidak akan menemukan satu-pun hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berhubungan suami istri pada malam-malam tertentu, termasuk malam Jum’at.
Kemudian lanjutan penelusuran singkat malam ini di “timeline pencarian”, pandangan mata saya tertarik pada sebuah kicauan yang berbunyi:
Kalau menikah itu harus,,kenapa namanya harus sunnah rasul,,bukannya fardu ain,,,kenapa??
Pertanyaan ini mungkin mewakili ke-awam-an dalam masyarakat kita. Hukum pernikahan dalam Islam itu bisa Wajib, bisa Sunnah, bahkan bisa Haram, bisa Makruh, atau bisa Mubah; yang semuanya itu tergantung kondisi / latar belakang dalam pernikahan tersebut. Sedangkan dalam soal berhubungan badan (jima’), yang SALAH adalah pasangan suami istri tersebut meng-khusus-kan malam Juma’t untuk berhubungan badan dengan niat untuk mengamalkan hadits Palsu di atas dan “bersemangat membunuhi ribuan Yahudi” seperti dalam postingan yang menyesatkan di sini: [Kompasiana] Saatnya Membunuh Yahudi Malam Ini. Bagi yang punya akun Kompasiana, silakan menasehati pemilik jurnal tersebut.
Kalau mau berhubungan badan dengan pasangan sah-mu, jangan mengkhusus-kan hari-hari,kemudian lebih baik itu diniatkan sebagai ibadah sehingga diawali dan diakhiri dengan do’a. Berhubungan badan dengan pasangan sah adalah merupakan ibadah seperti sabda Rasulullahsallallahu ‘alaihi wa sallam:
Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” [HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah].
Di Indonesia sangat subur akan hadits-hadits palsu dan dhaif (lemah) yang beredar dan bermaksud untuk menyesatkan dan membodoh-bodohi umat. Oleh karena itu berhati-hatilah, kawan!
Mari STOP mengatakan “Sunnah Rasul” sebagai pengganti dari istilah berhubungan suami istri alias ML ! Karena itu dosa besar. Bahkan meskipun itu ucapan dalam bentuk “kode”, karena itu sama dengan menyuburkan kedustaan. Dikatakan berdusta karena mengatakan sebuah hadits padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan apa-apa terhadap yang dikatakan itu.
“Kode” itu misalnya begini:
Papa: “Mah, ntar malam kita berburu dan membunuhi Yahudi yuk!”
Mama: “Maaf, pah, Yahudi nya sudah habis” kode kalau si mama lagi datang bulan / pms
Pasutri (pasangan suami istri) terpaksa menggunakan bahasa sandi tersebut agar komunikasinya sulit dipahami anaknya di dalam rumah. Bercanda seperti ini hanya akan menumbuh-suburkan kedustaan hadits tersebut. Itupun akan dituntut di akherat kelak. Maka silakan cari kode atau bahan candaan yang lebih bermutu.
Lantas, apa sih sebenarnya Sunnah Rasul itu?
Definisi yang benar tentang Sunnah Rasul dalam Islam mengacu kepada sikap, perilaku / tindakan, ucapan dan cara Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani hidupnya. Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Quran. Narasi atau informasi yang disampaikan oleh para sahabat tentang sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah disebut sebagai hadits. Sedangkan Sunnah yang diperintahkan oleh Allah disebut Sunnatullah.
Keseharian dan perilaku Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Akhlak Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang yang harus diikuti dan diteladani. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” [QS Al Ahzab: 21].
Bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih”. Sebab mengamalkan ajaran Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah KEWAJIBAN yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an:
Dan apa yang Rasul berikan untukmu, maka terimalah ia, dan apa yang ia larang bagimu, maka juhilah.” [Q.S. Al-Hasyr: 7]
Sunnah merupakan kunci untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an dan sebagai perangkat pengurai yang menunjuki dari dalil-dalil yang tersedia di dalamnya. Al-Qur’an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan petunjuk pelaksanaannya; jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Siapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah.” [Q.S. An-Nisaa': 80]
Apakah ada Sunnah Rasul yang ada keterkaitannya dengan aktivitas pada hari Jumat (atau malam Jum’at)?
Ada. Hadits di bawah ini shahih.
Memperbanyak membaca shalawat. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum’at dan malam Jum’at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al Baihaqi)
Membaca Al-Qur’an khususnya surat Al Kahfi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua Jum’at.”(HR. Al Hakim)
Memperbanyak do’a. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)
Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam Sholat Subuh. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Jum’at “Alam Tanzil …” (surat As Sajdah) pada raka’at pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuro” (surat Al Insan) pada raka’at kedua.” (HR. Muslim)
Dan dianjurkan ketika di rakaat pertama sampai pada bacaan ayat ke 15, imam sujud diikuti oleh makmum. Setelah sujud, imam berdiri kembali membaca ayat selanjutanya sampai selesai.
Shalat Jum’at, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Salat Jumat itu wajib atas tiap muslim dilaksanakan secara berjamaah terkecuali empat golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR.Abu Daud dan Al Hakim)
Jadi, kalau bicara Sunnah Rasul di hari Jumat dan malam Jum’at, ya silakan kaitkan dengan LIMA aktivitas yang disebutkan di atas. Jangan dikaitkan dengan nge-seks atau ML. Bagi pasutri, kalau mau ML bisa kapan saja, tidak ada hari istimewa.
Mari menjaga, memelihara dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang selama ini menjadi hukum syariat kedua setelah Al-Qur’an.
Mengapa Jasad Nabi dan Syuhada Tidak Membusuk? Ini Jawabannya
Dr. Abdul Hamid Al Qudhah menguraikan hasil riset ilmiah tentang mikroba dalam buku Al Mikrubat wa Karamatusy Syuhada yang telah diterjemahkan dengan judul Jasad Syuhada Tak Membusuk. Dimulai dari definisi dan penjelasan mikroba, keajaiban-keajaiban mikroba yang berhasil ditemukan melalui serangkaian riset hingga sarang-sarangnya. Banyak gambar ditampilkan untuk melengkapi dan mendukung data-data dalam buku itu.
Selanjutnya, ia mulai menjelaskan mengapa jasad Nabi dan syuhada tidak membusuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya menjelaskan bahwa jasad para Nabi tidak akan dimakan (binatang) tanah. Beliau bersabda:
Sesungguhnya yang paling utama di antara hari kalian adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan dan dimatikan. Pada hari ini pula terjadi peniupan sangkakala dan kematian massal. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari ini karena shalawat kalian itu akan diperlihatkan kepadaku.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami akan diperlihatkan kepadamu sedang jasadmu telah lapuk (remuk)” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan (binatang) tanah memakan jasad para Nabi ‘alaihimus salam” (HR. An Nasa’i dan Ibnu Majah).
Sedangkan mengenai para syuhada, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al Baqarah: 154)
Ayat ini banyak dimaknai bahwa jasad syuhada tidak dimakan mikroba sebagaimana jasad para Nabi. Terlebih ketika banyak ditemukan fakta bahwa jasad syuhada masih utuh. Misalnya jasad syuhada uhud dan mujahidin Palestina yang ditampilkan dalam buku tersebut.
Lalu mengapa mikroba tidak merusak jasad para Nabi dan syuhada? Sebab Allah-lah yang memerintahkan mikroba berbuat demikian. Allah yang menciptakan mikroba, membuat sunnatullah bahwa tugas mikroba menguraikan makhluk hidup yang telah mati, maka Dia pula yang bisa mengubah sunnatullah itu pada sesuatu yang dikehendakiNya. “Jadi, mikroba adalah makhluk yang sangat patuh kepada Penciptanya,” simpul Dr. Abdul Hamid Al Qudhah. (bersamadakwah.com)
Pelajaran dari Kisah Sujudnya Para Malaikat Kepada Nabi Adam
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempatkan Adam dan anak keturunannya dalam kedudukan yang mulia, lebih mulia dari para makhluk-Nya yang lain. Salah satu bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah setelah Allah menciptakan Adam, Allah perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam‘alaihi shalatu wa salam.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam terkadang menimbulkan polemik di sebagian umat Islam atau memang isu ini sengaja dilemparkan ke tengah-tengah umat Islam untuk menebar kerancuan dengan mempertanyakan “Mengapa Allah meridhai makhluk-Nya sujud kepada selain-Nya? Bukankah ini sama saja melegitimasi kesyirikan? Dan Iblis adalah hamba Allah yang benar-benar mentauhidkannya karena menolak untuk sujud kepada Adam”. Kurang lebih demikian kalimat rancu yang sering dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan.
Yang perlu kita ketahui adalah para ulama membagi sujud ke dalam dua bagian; pertama, sujud ibadah dan yang kedua sujud (tahiyah) penghormatan.
Sujud ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata tidak boleh kepada selain-Nya. Allah tidak pernah memerintahkan satu pun dari makhluk-Nya untuk bersujud kepada selain-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada makhluk tersebut. Para malaikat Allah perintahkan sujud kepada Adam bukan dalam rangka sujud ibadah tetapi sujud penghormatan.
Sujud penghormatan merupakan bagian dari syariat umat-umat terdahulu, kemudian amalan ini diharamkan dengan diutusnya Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh sujud penghormatan adalah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Demikian juga mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada Ayahnya Nabi Ya’qub lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Di dalam surat Yusuf dikisahkan,
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ
Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS. Yusuf: 100)
Inilah di antara contoh-contoh sujud penghormatan yang merupakan bagian dari syariat umat terdahulu.
Pengalaman serupa juga pernah terjadi kepada Muadz bin Jabal tatkala melihat ahlul kitab di Syam. Tatkala pulang dari Syam, Muadz sujud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan,
مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?” Muadz menjawab, “Aku baru datang dari Syam. Yang kulakukan ini serupa dengan mereka, (orang-orang di sana) mereja sujud untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Aku pun berkeinginan melakukannya kepadamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, “Jangan kau lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud, maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah, No. 1853).
Apa yang dilakukan penduduk Syam adalah contoh dari syariat terdahulu yang masih mereka amalkan, mereka sujud kepada pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh mereka sebagai penghormatan untuk para pembesar tersebut, bukan untuk menyembah mereka.
Di antara contoh lainnya juga, ada seekor hewan melata yang sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarangnya karena sujud kepada makhluk, baik itu sujud penghormatan terlebih lagi sujud untuk ibadah, haram hukumnya dalam syariat Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam timbangan syariat Muhammad (baca: syariat Islam) sujud penghormatan sama saja dengan sujud ibadah, haram hukumnya apabila dipersembahkan kepada selain Allah.
Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam‘alaihissalam adalah, iblis termasuk dari bangsa jin bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang.
Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan bangsa jin termasuk iblis, Allah ciptakan dari api. Allah berfirman,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 50)
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari apisedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)
Dengan demikian iblis bukanlah dari golongan malaikat, saat itu ia hanya bersama dengan para malaikat Allah yang taat. Ada yang menyatakan, dahulu iblis adalah bangsa jin yang taat kepada Allah. Inilah alasannya ia dimuliakan dengan dikumpulkan bersama para malaikat walaupun ia bukan malaikat. Namun akhirnya sifat sombongnya terlihat di hadapan para malaikat, tatkala Allah mengujinya dengan memerintahkan untuk sujud kepada Adam.
Sumber: Fabihudahum Iqtadir
5 Hal yang Terjadi pada Jasad Saat Kematian Tiba
Kematian adalah satu pengalaman yang akan dihadapi setiap manusia. Tak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi pada ruh kita saat kematian menjemput. Namun apa yang terjadi pada jasad bisa dijelaskan secara ilmiah.
Seperti dilansir dariMenshealth, Selasa 29 September 2015, para ahli forensik, setidaknya mengetahui beberapa hal yang terjadi pada jasad setelah kematian dan berikut 5 di antaranya.
Jasad berubah keunguan
Seperti yang kerap kita lihat di film-film, ternyata benar adanya bahwa tubuh seseorang yang telah meninggal akan menjadi pucat keunguan dan kaku. Ketika dokter forensik mengambil bagian jasad mereka, seperti tulang belikat atau tulang punggung, daerah tersebut akan berwarna ungu bernoda.
Hal ini terjadi karena setelah jantung berhenti memompa, gravitasi membuat darah bertahan di pembuluh darah dan kemungkinan pecah sehingga memicu lebam atau yang disebut livor mortis.
Terjadi semacam ereksi
Pada pria yang meninggal dalam keadaan menelungkup, darah akan mengumpul di organ vital dan membuatnya seperti “bangkit dari tidur”. Kondisi ini membuat organ vital si pria akan terlihat seperti ejakulasi setelah meninggal.
“kadang-kadang cairan juga akan ditemukan pada organ vital mayat, tapi ini berasal dari tekanan pasif kelenjar prostat,” terang Dr Judy Melinek, MD, seorang ahli patologi forensik.
Buang gas melalui mulut
Usai kematian, bakteri dari usus dan saluran pernapasan bagian atas akan masuk ke pembuluh darah dan mulai “berpesta” di jaringan tersebut hingga menghasilkan proses yang disebut dekomposisi.
Akibatnya, jika jasad seseorang ditekan atau digerakkan, gas berbau yang terpendam dalam jaringan akan terhembus keluar melalui mulut atau dubur. “Baunya seperti perut kembung atau muntah,” kata Dr Judy Melinek.
Tubuh mengejang
Mungkin Anda pernah mendengar cerita mayat seseorang yang bergerak-gerak seolah hidup. Ini memang dapat terjadi dalam kacamata medis. Sebab, mayat memang dapat membuat gerakan kejang yang tiba-tiba akibat transisi ke tahap “mati total”.
Kerja batang otak atau sumsum tulang belakang yang tidak rusak saat jantung pertama kali berhenti berdetak, kemungkinan membuat tubuh mengejang pasca kematian.
Keluar suara erangan
Hal ini mungkin terdengar agak mengerikan. Namun benar adanya, mayat dapat mengerang atau mengeluarkan suara aneh lainnya pasca kematian. Udara yang terperangkap dalam jasad tidak akan lekas keluar. Ketika jasad mendapat tekanan, ada kemungkinan udara yang tersisa tersebut keluar dan menggetarkan tenggorokan sehingga keluarlah suara-suara aneh.
(Sumber : Dream)
Benarkah Nabi Nuh Tidak Bersabar Karena Meminta Adzab Untuk Kaumnya
Sebagian orang ada yang menuduh Rasulullah Nuh‘alaihissalam bukanlah seorang Rasul yang sabar menghadapi kaumnya, padahal Allah sendiri menggelarinya ulul azmi di antara para rasul. Alasan orang-orang yang menuduh Nabi Nuh tidak sabar karena Nabi Nuh memintakan adzab kepada Allah untuk kaumnya.
Mari pahami alur kisahnya, mengapa Nabi Nuh mengucapkan demikian, sehingga kita tidak berburuk sangka kepada utusan Allah yang mulia.
Kaum Nuh adalah kaum yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya melakukan kekufuran, mereka juga senantiasa menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan adzab sebagai bukti kebenaran dakwahnya itu. Mereka mengatakan,
يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
“Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 32)
Namun Nabi Nuh tetap bersabar dan tidak membalas perkataan mereka dengan meng-iya-kannya atau meanggapinya dengan ancaman, beliau hanya mengatakan bahwa keputusan adzab bukanlah kehendaknya, melainkan hanya kehendak Allah semata.
قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ
Nuh menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri”. (QS. Hud: 33)
Nabi Nuh yang telah berdakwah selama 950 tahun, tidak hanya di siang hari namun juga di malam hari beliau tidak berhenti menyeru kaumnya. Selama masa yang panjang itu pula beliau bersabar atas gangguan fisik maupun psikis yang ia terima.
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا
Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, namun seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS. Nuh: 6-7)
Tidak hanya menolak seruan Nabi Nuh, mereka pun mengejeknya dengan menutupi telinga-telinga mereka.
وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا
“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh: 8)
Allah Ta’ala pun menanggapi kaum Nuh yang sangat melampaui batas ini dengan berfirman, mengabarkan kepada Rasulullah Nuh ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam bahwa tidak ada lagi kaumnya yang akan beriman kepadanya.
وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Hud: 36)
Artinya, tidak akan ada lagi yang akan beriman kepada seruanmu setelah 9 orang yang telah mengikutimu.
Mendengar firman Allah ini, Nuh sadar Allah akan segera menurunkan adzab-Nya kepada kaumnya.
وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا
“(Jika demikian) Rabb-ku, maka jangan engkau sisakan seorang pun orang kafir di atas bumi ini. Jika Engkau membiarkan mereka, pastilah mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu (yang lain), dan mereka pun akan melahirkan keturunan yang senantiasa berbuat dosa dan kekufuran.” (QS. Nuh: 26-27)
Demikianlah syariat terdahulu, ketika sebuah kaum melakukan dosa dan melampaui batas, maka Allah akan menurunkan adzab-Nya langsung di dunia dengan membinasakan mereka. Lihatlah kaum ‘Add umat Nabi Hud, ketika mereka ingkar dan terus-menerus menyomobongkan diri, Allah binasakan mereka dengan angin topan. Umat Nabi Luth, Allah buat mereka binasa dengan menghujani batu api dari langit kemudian membalikkan bumi yang mereka pijak. Bangsa Madyan, umat Nabi Syuaib Allah hancurkan mereka dengan suara guntur yang menggelgar sehingga mereka tewas seketika seolah-olah tidak pernah ada orang yang tinggal di daerah itu sebelumnya. Firaun, Qarun, dll. Allah segerakan adzab mereka di dunia dan nanti adzab yang lebih besar di akhirat.
Berbeda dengan umat Nabi Muhammad yang Allah utamakan atas umat lainnya, Allah tunda adzab-Nya di akhirat kelak, dan memperpanjang masa bagi umat Muhammad agar berpikir dan bertaubat. Semua itu Allah lakukan dengan hikmah dan ilmu-Nya, dan hendaknya kita bersyukur atas hal ini.
Dan akhirnya adzab yang mereka nanti-nantikan itu datang, langit menurunkan air yang sangat deras dan bumi pun mengeluarkan air yang melimpah. Bumi pun menjadi lautan yang sangat besar, yang ombaknya saja setinggi gunung.
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Hud: 42)
Demikianlah Allah menetapkan takdir untuk kaum Nabi Nuh.
Bukti Kebenaran Alquran, Fenomena Aneh Selat Gibraltar
Fenomena alam aneh berupa dua lautan yang tidak bercampur di Selat Gibraltar telah mengundang keheranan sekaligus decak kagum dunia. Selat Gibraltar memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negara Maroko dan Spanyol.
Di selat itu terdapat pertemuan dari dua jenis laut yang berbeda. Perbedaan itu akan sangat terlihat jelas dari warna lautnya. Bahkan ada garis batas yang memisahkan keduanya, dan uniknya air dari kedua sisi lautan itu tak bercampur satu sama lain.
Melihat fenomena tak lazim itu banyak ilmuwan tertarik untuk menelitinya. Hingga akhirnya ditemukan fakta bahwa penyebab tak bercampurnya air laut di sana akibat adanya perbedaan masa jenis air.
Tegangan permukaan mencegah kedua air dari lautan tidak bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka.
Namun jauh sebelum ilmuwan meneliti fenomena aneh di Selat Gibraltar, Al-Quran telah lebih dulu menyebutkannya sejak 15 abad lalu.
Ada beberapa surat dalam Al-Quran yang mengisahkan tentang fenomena ini, seperti Surat Ar-Rahman ayat 19-20 yang berbunyi:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui maisng-masing.” (Q.S. Ar-Rahman: 19-20)
Adapula ayat lain yang menyebutkan fenomena serupa, yakni Surat Al-Furqan ayat 53 yang berbunyi:
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S. Al-Furqaan: 53)
Kisah sebuah Mangkuk Kayu
Muslimahdaily - Seorang pria yang telah renta pergi ke rumah puteranya yang sudah berkeluarga dan tinggal di sana bersamanya serta menantu dan cucu laki-laki berusia lima tahun. Kedua tangan pria itu sudah gemetaran, matanya telah mengabur, dan langkahnya kakinya terseok-seok.
Keluarga itu makan bersama di meja makan. Karena tangan si kakek gemetaran dan sukar melihat membuat ia kesulitan makan. Kacang polong di sendoknya berjatuhan dan menggelinding di lantai.
Saat ia memegang gelas, susu di dalamnya pun tumpah mengotori taplak meja. Anak dan menantu perempuannya itu menjadi jengkel dengan kekacauan yang ia perbuat.
“Kita harus melakukan sesuat untuk ayah,” kata anaknya itu. Cukup sudah ia menumpahkan susu, makan dengan berisik, mengotori lantai dengan remah makanan.”
Jadi, suami istri itu menempatkan sebuah meja kecil di pojokan rumah. Di sana si kakek makan sendirian sementara keluarga itu menikmati makan malam di meja makan. Karena si kakek telah memecahkan dua atau tiga piring, makanannya disajikan dalam mangkuk kayu.
Saat keluarga itu memandang sekilas ke arahnya, kadang terlihat si kakek menangis duduk sendirian. Terngiang di telinganya teguran tajam ditujukan padanya saat menjatuhkan sendok atau menumpahkan makanan.
Sang cucu yang masih kecil mengamati semua dalam diam. Pada suatu hari ketika makan malam tiba, si ayah memperhatikan puteranya sedang bermain pahatan kayu. Dia pun menanyainya dengan lembut,
“Apa yang sedang kau buat, Nak?”
Bocah kecil itu menjawabnya dengan lembut juga,
“Oh, aku sedang membuat mangkuk kecil untuk ayah dan ibu untuk tempat makan kalian kalau aku sudah besar nanti”
bocah kecil itu tersenyum dan terus bekerja. Perkataannya seakan menusuk sehingga kedua suami istri itu tak bisa berkata-kata. Air mata mulai membasahi pipi mereka. Meskipun tak ada kata yang diucapkan, keduanya tahu apa yang harus mereka lakukan.
Malam itu juga laki-laki itu membimbing tangan si kakek dan dengan lembut membawanya kembali ke meja makan keluarga. Untuk seterusnya sepanjang sisa hidupnya, kakek itu makan bersama keluarganya. Suami istri itu tidak lagi peduli saat sendok jatuh, susu tumpah, atau taplak meja kotor.
Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S Luqman : 14)









